Sabtu, 23 April 2016

PERMOHONAN MAAF

Selamat sore rekan - rekan setia. Hari ini, tepat pada pukul 16.49 WIB, 23 April 2016 saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya kepada rekan- rekan semua karena sudah hampir satu tahun tidak memposting lagi di blog ini. Sehingga blog ini terkesan diabaikan dan tidak terurus. Namun tidak begitu, blog ini terus saya pantau dan saya urus. Memang dikarenakan beberapa hal, salah satunya sedang ingin membuat blog baru dengan materi yang tentunya baru, sehingga saya sudah tidak pernah lagi memposting materi - materi di blog ini. Untuk itulah saya memohon maaf kepada rekan - rekan semua yang setia melihat blog ini. Saya berencana ingin kembali ngeblog atau kembali mengisi blog ini dengan materi - materi yang seru. Tentunya mengenai Indonesia. Tapi sebisa mungkin, materi tersebut merupakan materi yang saya tulis sendiri, tidak lagi mengkutip dari materi - materi blog lain. Doakan saja semoga lancar hehe.

Sekali lagi saya memohon maaf kepada rekan - rekan semua, dalam waktu dekat saya akan kembali ngeblog. Terima kasih semua. Cintai Indonesiamu dan perjuangkan Indonesiamu.

Blogger,



Galang Putra Kurnia Ramadhan

Kamis, 09 April 2015

SUKU ANAK DALAM - JAMBI, INDONESIA

Di provinsi jambi terdapat sekumpulan masayarakat yang bermukim di dalam hutan,mereka biasa dikenal dengan sebutan anak rimba atau suku anak dalam (SAD). Masyarakat umum sendiri memiliki panggilan untuk suku anak dalam jambi yaitu kubu. Panggilan kubu yang di peruntukan untuk suku anak dalam jambi memiliki arti yang tidak baik atau negatif, yaitu kotor menjijikan dan bodoh. Panggilan kubutersebut pertama kali muncul di tulisan-tulisan pejabat kolonial. Sedangkan untuk sebutan Suku Anak Dalam pertama kali diciptakan oleh pemerintah Indonesia melalui departemen social.

Suku anak dalam memiliki arti sekelompok masyarakat yang bermukim di pedalaman dan terbelakang. Sedangkan Anak Rimba adalah panggilan yang terlahir dari suku anak dalam sendiri. Anak rimba memiliki arti orang yang hidup atau bermukim dan mengembangkan kebudayaan tidak terlepas dari hutan, sebagai tempat tinggal mereka. Istilah orang Rimba dipublikasikan oleh seorang peneliti Muntholib Soetomo melalui disertasinya berjudul “Orang Rimbo: Kajian Struktural Fungsional masyarakat terasing di Makekal, provinsi Jambi”.

Sejumlah ahli antropolog berpandangan bahwa Suku Anak Dalam termasuk kategori protom Melayu (Melayu Tua) dari beberapa hasil kajian yang dilakukan, menggambarkan bahwa kebudayaan Suku Anak Dalam yang ada di Provinsi Jambi memiliki kesamaan dengan suku melayu lainnya, seperti bahasa, kesenian dan nilai-nilai tradisi lainnya . Salah satu contoh adalah bentuk pelaksanaan upacara besale ( upacara pengobatan ) pada masyarakat anak dalam hampir sama dengan bentuk upacara aseik (upacara pengobatan) pada masyarakat Kerinci yang juga tergolong sebagai protom melayu.

Suku anak dalam jambi di perkirakan memiliki populasi 200.000 orang. Dikawasan hutan jambi suku anak dalam menyebar di beberapa Kabupaten, seperti di Kabupaten Batang hari, Tebo, Bungo, Sarolangun dan Merangin. Dan pada saat sekarang tak sedikit pula suku anak dalam di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pedesaan dengan pola yang mengelompok.

Suku Anak Dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya diatur dengan aturan, norma dan adat istiadat yang berlaku sesuai dengan budayanya. Dalam lingkungan kehidupannya dikenal istilah kelompok keluarga dan kekerabatan, seperti keluarga kecil dan keluarga besar. Keluarga kecil terdiri dari suami istri dan anak yang belum menikah. Keluarga besar terdiri dari beberapa keluarga kecil yang berasal dari pihak kerabat istri. Anak laki-laki yang sudah kawin harus bertempat tinggal dilingkungan kerabat istrinya. Mereka merupakan satu kesatuan sosial dan tinggal dalam satu lingkungan pekarangan. Setiap keluarga kecil tinggal dipondok masing-masing secara berdekatan, yaitu sekitar dua atau tiga pondok dalam satu kelompok.

Sedangkan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, suku anak anak dalam biasanya melakukan kegiatan berburu atau meramu, menangkap ikan, dan memanfaatkan buah-buahan yang ada di dalam hutan namun dengan perkembangan zaman dan adanya akulturasi budaya dari masyarakat luar, kini beberapa suku anak dalam telah mulai mengenal penegtahuan tentang pertanian dan perkebunan.

DANAU HABEMA ( DANAU TERTINGGI DIANTARA SALJU ABADI ) - WAMENA, PAPUA INDONESIA



Pergi ke Wamena memang bukan perkara mudah. Satu-satunya akses ke sana adalah melalui udara dan belum tentu bisa langsung mendarat. Lokasi bandara yang berada di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi perbukitan memerlukan keahlian khusus untuk mendaratkan pesawat di Bandara Wamena.

Wamena merupakan kota satu-satunya di Pegunungan Tengah, Papua. Secara administratif, persisnya Wamena masih masuk Kabupaten Jayawijaya, sekitar 585 km dari ibu kota provinsi Jayapura. Kota ini terletak di sebuah lembah yang indah, bernama Lembah Baliem, atau yang dalam literatur asing disebut Lembah Agung. Iklimnya sejuk, dan bahkan cenderung dingin. Lembah ini menjadi hunian bagi banyak suku pedalaman Papua.

Nama Wamena diambil dari bahasa Suku Dani—‘wam’ yang berarti babi dan ‘ena’ yang berarti jinak. Jika berkunjung ke kota ini kita bisa melihat para ibu rumah tangga terlihat bersama babi peliharaan mereka. Menurut adat setempat, babi adalah harta keluarga. Babi (wam) biasa dijadikan syarat mahar untuk mengawini perempuan.

Dengan lokasi yang terpencil itu, maka hanya wisatawan dengan minat khusus saja yang benar-benar mau berlibur ke Wamena. Selain kekayaan budaya, Wamena juga memiliki banyak objek wisata alam. Salah satunya adalah Danau Habema. Letaknya memang jauh dari Kota Wamena, sekitar 48 km, mendaki menuju arah pegunungan Jayawijaya.

Jika Anda pernah menonton film Denias, Senandung di Atas Awan, maka salah satu lansekap danau yang luas adalah Danau Habema. Danau dengan nama asli Yuginopa ini terletak di kompleks Pegunungan Jayawijaya. Dengan ketinggian 3.225 mdpl, danau ini didaulat sebagai salah satu danau tertinggi di Indonesia. 


Dari sini kita bisa melihat langsung Puncak Wilhelmina (sekarang namanya Puncak Trikora, namun warga lokal lebih suka memanggil nama aslinya) menjulang tinggi di depan mata. Di Puncak Trikora itulah salju khatulistuwa berada.

Di sekitar danau terhampar padang rumput yang luas. Rumah semut yang dimanfaatkan untuk pengobatan alternatif tergantung di beberapa pohon. Jika beruntung kita bisa menemukan burung endemik Papua, cenderawasih dan astrapia. Bahkan, anggrek hitam yang sudah langka itu terkadang masih bisa dijumpai di sini.

Suhu di sekitar Danau Habema tentulah dingin. Bisa mendekati nol derajat di kala malam hari. Siang hari berkisar di angka delapan derajat. Tak heran kalau embun senantiasi menyelimuti rerumputan sepanjang hari.

Danau ini sepi. Bisa dimaklumi sebab untuk menuju ke sini butuh biaya yang banyak. Tak ada angkutan umum sehingga harus mencarter kendaraan di Wamena.

UNIKNYA PASIR PEGUNUNGAN ( PASIR TANPA PANTAI ) - WAMENA, PAPUA INDONESIA

Ada sebagian orang yang bilang surga itu adalah hamparan pantai berpasir putih dengan langit biru, sebagian lagi percaya surga itu adalah gunung hijau dengan segala kesejukannya. Bagiku, surga adalah gabungan semuanya. Perpaduan langit biru dengan hamparan pasir putih, dikelilingi oleh pegunungan, sesekali ditemani kabut yang membungkus tipis, dilingkupi lembah dengan permadani berwarna hijau terang menyejukkan mata. Benarkah tempat yang seperti itu ada di Indonesia?
Mari kita ke jantung pulau Papua jauh di timur Indonesia. Ada sebuah surga yang terletak di Desa Aikima, Lembah Baliem. Matahari bisa sangat pelit disini, sinarnya kadang direbut oleh selimut kabut. Dahulu, dipagi hari, kabut tebal selalu turun menutupi lembah. Kabut ini benar-benar tebal sehingga jarak pandang pejalan kaki pun sangat terbatas. Tak jarang pesawat yang hendak masuk ke Wamena harus kembali lagi ke Jayapura karena kesulitan untuk mendarat. Saat ini walaupun tidak lagi setebal dahulu, kabut masih setia menghiasi keindahan alam Lembah Baliem dan seolah mempertegas unsur mistis yang dimilikinya.
21Lembah Baliem terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut, dipagari pegunungan Jayawijaya. Tak terjamah pesisir pantai, jauh dari laut. Namun uniknya Bumi Cendrawasih ini mempunyai pasir putih tanpa laut. Pasir di kawasan ini adalah pasir kuarsa yang menjadi bahan dasar pembuatan gelas dan material lain yang bernilai tinggi. Tapi masyarakat Wamena enggan menjadikannya sebagai komoditas tambang. Mereka lebih memilih melestarikan kawasan ini. 
45Hapus khayalan anda tentang laut biru dengan pantai putih bersih nan indah. Pasir Putih ini bukanlah wisata pantai, melainkan daerah perbukitan batu indah yang dihiasi aliran pasir seputih salju memantulkan cahaya matahari hingga tampak bak kristal. Bukit pasir ini juga ditumbuhi pohon perdu diselimuti lumut yang konon berusia hingga ratusan tahun. Selain itu, dari atas bukit Pasir Putih kita dapat menikmati pemandangan Distrik Pikke yang dihiasi oleh padang rumput hijau dan rawa-rawa bening dengan batuan unik.
Walau pun namanya lembah, namun cuacanya bisa sangat ekstrim. Panas terik menyengat kulit di Siang Hari, dingin menusuk di malam hari, bahkan bisa mencapai 10 hingga 15 derajat Celsius. Angin akan dengan kejam menderu-deru, terkadang mendesing, terkadang melengking. Siapkan baju tebal dan hangat, jika tidak, udara disini akan membuat kulitmu kering dan pecah-pecah. Namun dengan segala kekejamannya, tempat ini tetap terasa ajaib, karena di mana lagi kita bisa menikmati pasir putih di tengah lembah raksasa, jauh di atas permukaan laut ? Hanya di Papua.
73Perjalanan ke tempat ini akan menjadi sebuah perjalanan yang tak terlupakan. Cukup mudah untuk mencapainya, lokasi ini cukup dekat dengan Kota Wamena, hanya sekitar 15 menit perjalanan. Sudah ada jalan setapak dengan kontur lanskap mendatar, lokasinya pun tak jauh dari jalan raya. Banyak pemandangan indah yang akan menyapa kita dari kiri dan kanan jalan. Rumput hijau membungkus wajah para gunung. Padang luas diselingi suara gemericik air sungai yang jernih. Membuat kita serasa diterbangkan ke sebuah negeri surga. Tak heran jika tempat ini menjadi langganan festival Lembah Baliem setiap tahunnya dengan ratusan turis asing dan domestik membanjiri.
Bagaimana pasir putih ini bisa sampai di sebuah desa di tengah-tengah Lembah Baliem, ribuan kilometer jauhnya dari pantai? Berdasarkan sains, pasir putih ini ada karena bentukan alam. Katanya, Lembah Baliem dulu adalah sebuah danau raksasa bernama Wio. Sekitar tahun 1813, terjadi gempa yang menyebabkan pergeseran dan perubahan geologi. Dari situ terbentuk pula Sungai Baliem yang meliuk di tengah lembah ini. Konon, pasir putih Desa Aikima adalah salah satu sisi danau purba tersebut.
86Pasirnya putih dan halus bak terigu. Anak-anak yang tinggal di wilayah tersebut seakan mendapat sedikit sentuhan pesisir. Bercanda riang bermain pasir walaupun tanpa air, mereka tetap menikmati sensasi bermain di tepi pantai, mengubur diri mereka di pasir ataupun berguling-guling layaknya di pantai. Satu jam, dua jam, mereka tak terlihat bosan sedikitpin. Disini waktu tak ada harganya, berlalu begitu saja bersama angin gunung. Surga memang seperti itu, bagai candu, membuat orang ketagihan, jika sudah disini, pulang akan menjadi sebuah keputusan sulit untuk diambil.

(teks: Julia Saraswati, sumber foto: google.com dan travel.detik.com)

Minggu, 06 Juli 2014

EKSOTIKA PULAU MANADO TUA - SULAWESI UTARA, INDONESIA

Pulau Manado Tua bersama Pulau Bunaken, Siladen, Mantehage, dan Nani merupakan gugusan pulau yang membentuk Taman Nasional Bunaken-Manado. Taman nasional sekitar 89.065 hektar ini terletak tidak jauh dari Kota Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara. Perairan di kawasan ini memiliki panorama bawah laut spektakuler sehingga tidak salah apabila pernah menjadi tuan rumah World Ocean Conference yang pertama pada 2009.
Taman Nasional Bunaken-Manado adalah salah satu tempat menyelam spektakuler di dunia. Pulau-pulaunya saling berdekatan namun dipisahkan oleh palung sedalam 1.200 meter. Perairan di pulau-pulau ini merupakan perairan yang bebas dari limbah sampah dan berbagai polusi yang biasanya datang dari kota. Taman nasional ini dilindungi dari berbagai jenis kegiatan penangkapan ikan dan terumbu karang baik dengan memancing apalagi menggunakan bahan peledak.
Pulau Manado Tua bisa dicapai dengan kapal motor sekitar satu jam atau berjarak sekitar 10 mil dari Kota Manado. Pulau Manado Tua berbeda dengan pulau-pulau lainya di Taman Nasional Bunaken-Manado. Berbeda karena gunung api tersebut ditumbuhi pepohonan hijau dan rindang. Datarannya berada di dalam air dengan kemiringan 5 sampai 30 meter dan dibelah sebuah dinding karang dengan kedalaman 25 sampai 50 meter ke dasar laut dan sebuah gua besar. Sambangi langsung dan saksikan sendiri bagaimana taman laut ini benar-benar menakjubkan.
Pulau Manado Tua selain memiliki taman laut yang sempurna dan kaya biota laut, juga memiliki sejarah berkaitan keberadaan Suku Bowontehu. Menurut catatan sejarah, suku tersebut sudah ada di Pulau Manado Tua sekitar tahun 1623. Dahulu Pulau Manado Tua dihuni oleh Suku Bowontehu. Pulau tersebut dikenal sebagai Manarow dan merupakan orang-orang dari Etnis Sangir Tua.
Pulau ini memiliki sekitar 3.200 jiwa penduduk dan sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Masyarakat Manado Tua telah aktif melestarikan terumbu yang rusak dengan bantuan dari pemerintah setempat.
Terumbu karang di sini bisa menjadi tempat berlindung ikan-ikan kecil dari para predator. Nusantara Diving Club yang diselenggarakan pada 1985 bertujuan untuk mendesak Kementerian Lingkungan Hidup untuk melakukan perlindungan dan pelestarian terhadap berbagai biota laut di perairan Manado Tua.
Pulau Manado Tua memiliki iklim tropis dengan curah hujan berkisar antara 2.000 - 3.000 mm per tahun. Taman lautnya sendiri dihuni beragam biota laut langka diantaranya dugong, lumba-lumba dan berbagai jenis ikan hias seperti Hippocampus sp, kima raksasa, serta penyu sisik dan penyu hijau. Untuk jenis terumbu karang didominasi oleh jenis Pocilopora sp, Seriaattopora sp, Pachyseris sp, Porites sp, Fungia sp, Herpolitha sp, Holomitra sp, Galaxea sp, Pectinia sp, Lobophyllia sp, Echinopora sp, dan Tubastrea sp.
Selain potensi laut, pulau ini juga memiliki potensi lain seperti hutan lindung, Kubur Raja Mokodokettk, Raja Kokodompis, Raja Wulangkalangi, Pantai Raja (Apeng Datu), Pantai Istana Wakil Raja (Apeng Gugu), Pantai Apeng Salah, Batu Layar (Batu Senggo), Batu Kadera, Batu tempat istirahat (Pangilolong), dan Bua Alo yang sekarang menjadi Ibu Kota Kelurahan Manado Tua Dua yakni Bualo.