Selasa, 09 November 2010

KETIKA KITA BERKATA " AKU CINTA INDONESIA "


Kita semua, yang mengaku sebagai warga Indonesia, Manja!Sedikit-sedikit minta hak. Sedikit-sedikit minta hak.Dimana kewajiban kita sebagai warga negara?Dimana rasa Cinta Tanah Air kita untuk bangsa?Bukankah cinta itu adalah pengorbanan?Pengorbanan yang akan membuat Indonesia lebih baik dari sebelumnya?Dimana kita saat Indonesia butuh bantuan kita?
Ketika Indonesia membiarkan kita lahir dan belajar berjalan diatas tanahnya, kita malah kabur saat dia memerlukan kita.
Ketika Indonesia mendirikan sekolah-sekolah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, kita malah berteriak dengan keras “TIDAK MAU!”
Ketika Indonesia membayar mahal untuk mengadakan tempat-tempat pelatihan demi peningkatan kompetensi warganya, kita malah sering bolos dan sama sekali tak pernah berlatih.
Ketika Indonesia menyediakan lapangan pekerjaan untuk membangun negeri, kita malah melompat keluar negeri tanpa memberi salam padanya.
Ketika Indonesia mengadakan event-event bergengsi untuk melambungkan namanya di kancah Internasional, kita malah duduk dibarisan lain dan memakai atribut-atribut negara lain.
Ketika Indonesia melarang kita melihat acara TV khusus dewasa untuk mengedapankan moralitas bangsa, kita malah menunggu hingga aturan itu dilupakan, bahkan kita membuat sendiri adegan-adegan itu.
Ketika Indonesia menganjurkan untuk memakai produk dalam negeri demi pelestarian budaya bangsa, kita malah katakan bangsa kita tidak tahu mode, sekarang zaman sudah modern.
Ketika Indonesia memberikan beasiswa untuk menambah ilmu di luar negeri dan berharap kita akan pulang membangun negeri, jangankan pulang, kita bahkan tak pernah menelpon untuk menanyakan kabarnya.
Ketika Indonesia mau memberikan penghargaan untuk anak bangsa yang sukses di luar negeri, kita malah menutup pintu hati dan lebih memilih diakui negara lain.
Ketika Indonesia menyarankan sebuah pekerjaan bagus untuk masa depan, kita malah berkata: “aku tidak ingin kerja di Indonesia!”
Ketika Indonesia membangun gedung-gedung pencakar langit di atas tanahnya, kita malah menggosipkan kepada orang lain betapa jeleknya gedung-gedung itu.
Ketika Indonesia memerlukan kehadiran kita disisinya, kita malah pindah keluar negeri dan menetap disana selamanya.
Ketika Indonesia memerlukan bantuan tenaga dan pikiran kita, kita malah berkata, “Aku sibuk sekali, tak ada waktu memikirkan Indonesia”.
Ketika Indonesia memberikan jabatan dan mempercayakan fasilitas-fasilitasnya kepada kita, kita malah menggunakan fasilitas itu untuk kepentingan pribadi tanpa peduli kepentingannya.
Kini, diusianya yang ke-65, ketika Indonesia sakit-sakitan dan memerlukan perawatan anak-anak bangsa, kita malah sibuk mencari-cari referensi buku tentang pengaruh negatif usia terhadap eksistensi sebuah negara berkembang.
Mari kita bertanya dalam hati, sudahkah kita benar-benar cinta tanah air kita, cinta Indonesia?


Ketika kita berkata Cinta Indonesia, apakah telapak tangan kita berkeringat dan jantung berdebar?
Itu bukan cinta, tapi suka…
Ketika kita berkata Cinta Indonesia, tenaga dan pikiran selalu ingin mengambil alih dan menguasainya?
Itu bukan cinta, tapi nafsu…
Ketika kita berkata Cinta Indonesia, ingin rasanya nama itu selalu disamping kita dimanapun kita berada?
Itu bukan cinta, tapi kesepian…
Ketika kita berkata Cinta Indonesia, kita ingin memberikan segala hal yang dia perlukan?
Itu bukan cinta, tapi kemurahan hati…
Ketika kita berkata Cinta Indonesia, adakah rasa cemburu bila dia lebih mengutamakan kepentingan negara lain dan lebih menonjolkan produk luar negeri ketimbang dalam negeri?
Itu bukan cinta, tapi takut kehilangan…
Ketika kita berkata Cinta Indonesia, apakah dia adalah satu-satunya yang selalu kita pikirkan?
Itu bukan cinta, tapi GOMBAL..!!!
Ketika kita berkata Cinta Indonesia, kita berusaha selalu bersamanya karena campuran dari rasa sedih dan kegembiraan?
Itulah CINTA…
Ketika kita berkata Cinta Indonesia, kita mau menerima kekurangannya karena itu merupakan bagian dari kepribadiannya?
Itulah CINTA…
Ketika kita berkata Cinta Indonesia, apakah hati kita ikut tersenyum saat dia tertawa dan tercabik bila dia sedang sedih? Apakah kita menangis untuk kepedihannya meskipun dia terlihat tegar? Apakah kita masih tetap memeluknya walau kita sedang marah hebat padanya?
Itulah CINTA…
Mungkin kita sudah terlalu cerdas dan bisa mematahkan teori “cinta itu buta”, sehingga kita lupa akan hakikat cinta yang sebenarnya. Tapi sebelum semuanya terlambat, cintailah Indonesia seperti kita mencintai kekasih atau suami/istri kita, cintailah Indonesia seperti kita mencintai ibu kandung kita, dan cintailah Indonesia sebagai pengabdian kita terhadap Tuhan yang menciptakan tanah ini untuk kita.
Mari kita mulai berpikir terbalik bahwa kemerdekaan bukanlah hak yang harus terus digugat, melainkan sebuah kewajiban yang diemban oleh kita semua. Bukankah nasib suatu kaum tidak akan berubah jika kaum itu tidak mau merubahnya? Itulah tugas kita, warga negara Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar