Rabu, 17 Agustus 2011

MAPEED - TRADISI MASYARAKAT BALI INDONESIA


Mapeed merupakan tradisi setempat untuk mengiringi para Pemangku Pura yang akan mengambil air suci di sumber mata air yang dikeramatkan yang kemudian dijadikan Wangsuh Pada untuk dibagikan kepada semua umat yang sembahyang. Masyarakat yang ingin ngayah atau berpartisipasi datang ke Pura dengan pakaian adat khas, untuk mengantarkan Pemangku Pura mengambil tirta suci yang terdapat di sungai Wos, oleh masyarakat setempat biasa disebut Cengcengan. Jarak yang ditempuh kurang lebih sekitar 1,5 km. Mereka berbaris beriringan dengan indah dan rapinya sampai ratusan meter panjangnya, urutan pertama dari anak anak sampai pada ujungnya adalah orang tua, atau menurut tinggi dari yang pendek sampai yang tertinggi.
Anak anak sampai orang dewasa, laki laki maupun perempuan turut berpartisipasi pada kegiatan ini. Pada barisan terdepan terdapat sekelompok pemuda yang membawa atribut Pura berupa Umbul umbul ukuran besar, Kober, dan Senjata Dewata Nawa Sanga. Setelah itu barisan Peed itu sendiri, kemudian diiringi ibu ibu yang membawa perlengkapan untuk ngayab. Di belakangnya berbaris rombongan pemangku pura yang akan mengambil air suci, ibu ibu yang ngayah mekidung, gambelan beleganjur, dan terakhir adalah masyarakat umum yang ingin mengiringi prosesi mapeed ini.
Semuanya bergerak perlahan dalam keserasian, walaupun berjalan perlahan namun menimbulkan perasaan magis bagi yang menontonnya dan terbius oleh pesonanya. Bagaikan melihat iring iringan Widyadara dan Widyadari dari kahyangan, sungguh pengalaman yang membangkitkan semangat spiritual yang menontonnya.
Selesai prosesi mapeed ini, tak jarang para gadis atau ibu ibu tetap tinggal di Pura dan tidak mengganti pakaian yang dipakainya selama mapeed. Mereka melanjutkan ngayahnya dengan menarikan tari Permas jika sudah waktunya. Bagi mereka tak ingin santai dulu sebelum kegiatan di Pura hari itu benar benar telah usai.
                            
                    


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar