Sabtu, 06 Agustus 2011

PENGAMBILAN SARANG WALET DI PANTAI SELATAN JAWA, INDONESIA

Inilah panorama keganasan Pantai Selatan Jawa. Tebing curam dengan gulungan ombak yang menghantam dinding tebing dengan ketinggian 60 meter. Siapa yang tak kenal keganasan Laut Selatan. Pada kisah-kisah spiritual, Laut Selatan adalah wilayah kekuasaan Nyi Roro Kidul.
Pada salah satu dinding curam yang selalu di hantam ombak ini, terdapat gua yang dihuni oleh ribuan burung walet yang bersarang pada dinding gua yang dalam. Dari atas gua ini tidak terlihat. Mulut gua berada di permukaan laut yang ganas. Untuk mengambil sarang burung walet yang harganya mencapai 12 juta rupiah, perlu izin khusus kepada pemiliknya, yaitu Nyi Roro Kidul.
Ini adalah gua tiruan sarang burung walet. Gua ini terletak di obyek wisata Karang Bolong. Namanya Gua Contoh. Di gua ini digambarkan prosesi pengambilan sarang burung walet yang sarat bahaya. Pada gua inilah pengunjung mendapat informasi tentang gua sarang burung walet.
Pementasan wayang kulit yang digelar di Gua Contoh ini, adalah salah satu persyaratan meminta izin kepada Nyi Roro Kidul. Selain itu juga persyaratan berupa sesaji.
Setelah semua persyaratan dipenuhi, dimulailah pekerjaan awal mengambil sarang burung walet. Pekerjaan awal ini disebut mimiti. Walaupun kondisi laut sedang ombak besar, mimiti harus dilakukan, walaupun hanya untuk memasang seutas tali. Karena mimiti merupakan salah satu ritual.
Ditempat bernama srumbung inilah pekerjaan mimiti dimulai. Srumbung adalah tempat untuk memusatkan segala keperluan sebelum masuk ke dalam gua. Srumbung terletak pada kedalaman 30 meter atau setengah perjalanan menuju gua sarang burung walet.
Sulit dipercaya dengan akal sehat. Tempat berpautnya srumbung dan semua tangga untuk pengambilan sarang burung, terletak pada batu-batu yang menonjol di dinding tebing.
Setelah tiga hari proses meminta izin kepada Nyi Roro Kidul, gelombang lautpun mereda, sehingga pintu guapun terbuka. Namun inilah puncak kesulitan memasuki gua. Jalan masuk ke gua sarang burung walet hanya berpijak pada satu bambu yang sangat licin.
Dan yang lebih menyulitkan lagi, titian bambu dibuat menempel pada langit langit gua, sehingga untuk terus sampai ke dalam harus masuk dalam posisi telentang. Namun sedikit demi sedikit Kami mampu menguasai medan berat ini, sehingga Kami dapat masuk ke dalam gua.
Pada kedalaman sekitar 50 meter dari mulut gua, terlihat betapa berat proses pengambilan sarang burung walet. Para pemetik harus mampu menahan ayunan galah bambu sepanjang 5 meter, yang digunakan untuk melepas sarang burung dari dinding gua.
Dan ini adalah kesulitan lain yang harus di jalani para pemetik. Sarang burung walet yang terlalu jauh dari jangkauan galah. Letaknya terlalu ke bawah, sehingga hanya bisa dijangkau dengan tangga sambungan. Tangga ini dinamai tangga ole. Tangga ole dipasang hingga hampir menyentuh permukaan air laut. Pemetik harus selalu waspada terhadap ombak besar yang bisa datang tiba-tiba.
Menjelang sore panen sarang burung walet berakhir. Namun hasil panen kali ini mengalami penurunan. Tidak seperti panen pada masa lalu yang berhasil memetik hingga puluhan kilogram. Panen kali ini hanya mendapat kurang dari 5 kilogram.
Para pemetik ini beranggapan ini dikarenakan hutan di sekitar gua Karang Bolong sudah musnah. Sehingga burung walet semakin jauh mencari makan, dan pindah bersarang ke tempat lain. Namun sebagian yang lainnya beranggapan, ini dikarenakan sikap berbakti kepada Nyi Roro Kidul kini sudah berkurang. Entah mana yang benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar