Jumat, 26 Agustus 2011

TRADISI CIUMAN MASSAL DI BALI INDONESIA

Masyarakat di Bali, khususnya yang berada di kawasan banjar Kaja, Sesetan Denpasar memiliki tradisi yang cukup unik sehari setelah perayaan Hari Raya Nyepi. Tradisi ini disebut med-medan. Menurut keyakinan masyarakat setempat, jika tradisi med-medan ini tidak dilakukan, maka akan terjadi bencana yang sangat merugikan masyarakat.
Dalam acara med-medan itu, pasangan muda-mudi ini diguyur siraman air ketika sedang berciuman. Jika Anda tergoda untuk turut serta dalam tradisi ini, sebaiknya tahan diri. Sebab, tradisi ini hanya dikhususkan bagi warga setempat, dan orang dari luar banjar Kaja tidak diperkenankan ikut.

Di Indonesia, berciuman di depan umum tergolong perbuatan mesum. Namun, med-medan adalah perkecualian. Tradisi yang baru digelar di banjar Kaja ini merupakan rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi.

Untuk mengikuti tradisi ini, setiap peserta terlebih dahulu harus mendaftarkan diri ke panitia. Setelah itu, panitia yang menentukan pasangannya.

Setelah mendapat giliran, akhirnya pasangan yang telah ditentukan itu melakukan adegan saling berciuman. Tampak banyak peserta, terutama dari kaum wanita, merasa malu-malu untuk melakukan adegan ciuman. Maklumlah, mereka melakukan hal itu disaksikan khayalak ramai.

Tetua Banjar menjelaskan acara ini merupakan tradisi sejak zaman nenek moyang dahulu yang hingga saat ini masih terus dilestarikan oleh para generasi mudanya. Biasanya acara ini dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Nyepi.

Warga Banjar Kaja meyakini acara “med–medan” ini mempunyai nilai magis, sehingga harus terus dilestarikan. Dulu acara ini sempat dihentikan. Namun akibatnya, banyak warga setempat menderita bencana seperti sakit.

Melihat kejadian ini, tetua Banjar Kaja akhirnya menetapkan bahwa acara ini harus terus dilakukan. ”Kita meyakini akan mendapat hukuman secara niskala (gaib) jika tidak melaksanakan med–medan,” ucapnya.

Sementara itu Wakil Ketua I Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali Ngurah Sudiana kepada SH mengatakan kegiatan yang dilakukan oleh warga Banjar

Kaja adalah sah dan tidak bertentangan dengan ajaran Hindu. Hal ini mengingat dalam ajaran Hindu juga memakai tradisi masyarakat setempat, kondisi dan waktu. ”Secara agama, med-medan itu sah dan tidak bertentangan,”

”Secara agama Hindu, acara ini mengandung kekuatan untuk menetralisasi alam dari unsur negatif,” tutur warga sembari menambahkan lelaki dan perempuan juga mengandung unsur saling kontradiktif namun jika disatukan bisa menghasilkan sesuatu yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar