Jumat, 26 Agustus 2011

TRADISI TINGKEPAN - TRADISI MASYARAKAT MADURA

Salah satu budaya yang masih eksis hingga saat ini yaitu ritual tujuh bulanan atau pelet kandung atau tingkepan yang dilaksanakan pada kehamilan anak pertama. Upacara ini diyakini masyarakat mengandung makna agar kelahiran bayi tidak banyak mengalami hambatan dan menjadi anak yang sholeh dan berbudi pekerti yang baik. Dengan berbagai prosesi dan ritual, mulai dari pembacaan Al-Qur’an, mandi kembang, pembelahan kelapa yang menandakan jenis kelamin bayi, pemecahan telur, dan lain sebagainya.
Tradisi tingkepan sudah sangat melekat dan mendarah daging di masyarakat, khususnya di pulau Madura. Upacara tersebut dilaksanakan apabila umur kandungan ibu hamil menginjak usia 7 bulan.
Upacara tingkepan dilaksanakan pada kehamilan pertama, ketika kandungan menginjak usia 7 bulan. Tepatnya Pada tanggal 14 menjelang malam bulan purnama, agar sang bayi nantinya memiliki sifat-sifat yang sempurna seperti halnya bulan purnama yang sempurna.
Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam prosesi ritual ini antara lain kelapa muda1, kelapa2, kembang 7 macam dan lampu3, bubur rachok, nasi rasol, ayam muda, telur. Sedangkan bacaan yang dilantunkan adalah surat yasin4, surat Yusuf5, dan surat Maryam6.
Prosesi pelaksanaan upacara pelet kandung yaitu; Pertama ibu hamil dipijat7 oleh seorang dukun bayi, bersamaan dengan itu ada yang melantunkan ayat suci Al-Qur'an surat Yasin, Maryam, dan surat Yusuf. Kemudian didepan orang yang mengaji diberi lampu kembang, tajin rachok lemah dan nasi rasol. Setelah ibu hamil dipijat dan ayat-ayat suci Al-Quran selesai dilantunkan, ibu hamil berdiri di depan pintu sambil minum jamu yang wadahnya terbuat dari bethok, kemudian dibuang keluar rumah8.
Sang dukun kemudian menggelindingkan kelapa bulat keluar rumah dan ditangkap oleh ibu mertua ibu hamil, sambil membawa kelapa, ibu mertua berlari-lari di halaman rumahnya9, kemudian si hamil keluar rumah dan duduk di kursi. setelah itu ibu hamil memegang ayam muda dan meletakkan telur diatas pahanya. Ritual ini disempurnakan dengan mandi kembang dan yang memandikan adalah seluruh keluarga atau sebagian saja. Gayungnya menggunakan bethok yang pegangannya terbuat dari pohon beringin agar rambut sang bayi lebat atau bisa juga menggunakan pohon kemuning. Apa yang dipegang ibu hamil harus diusahakan mengeluarkan bunyi dengan cara dipukul-pukul10. Setelah prosesi mandi kembang selesai, ibu hamil beranjak dari tempat duduknya dan telur yang ada di atas pahanya dibiarkan jatuh dan hancur11.
Ritual tingkepan merupakan suatu fenomena di masyarakat yang memuat nilai-nilai budaya dan agama sehingga banyak orang menyebutnya sebagai tradisi ritual masyarakat Madura yang bertujuan untuk mendapatkan keselamatan dan keberkahan dari Yang Maha Kuasa.
Ditinjau dari aspek Budaya, maka tradisi ritual ini harus dilestarikan, karena disamping memang menjadi aset dalam perbendaharaan kebudayaan nasional, tradisi ritual ini juga merupakan karakteristik masyarakat Madura yang mempunyai intensitas dan responsibilitas yang tinggi manakala mereka harus dianugerahi seorang anak sebagai keturunan. Yang mana hal itu merupakan amanah yang diembankan kepada kita. Jadi, agar senantiasa mendapatkan keturunan yang ideal dengan kehidupan bersama, maka mereka menggelar tradisi ritual semacam ini.
Ditinjau dari aspek agama, fenomena ini berhadapan dengan dua versi yang kontraversi. Pertama, fenomena ini (tradisi ritual) bisa di lestarikan dalam kehidupan masyarakat Madura, namun harus dilakukan beberapa filterisasi dalam konkretisasinya yang tampak dalam prosesi tradisi ritual ini, karena dalam prosesinya terdapat unsur penyikasaan dan mubazir, seperti pemukulan ayam, penjatuhan dan penetasan telur secara sia-sia. Kedua, prosesi dalam tradisi ritual ini mutlak ditinggalkan, karena ada semacam pembauran antara budaya Islam yang memang sengaja disisipkan dan budaya non Islam yang agak komplein yang hal ini pada ending tradisi selevel ini akan menggiring kepada faham Dualisme yaitu Monoteisme dan Animisme atau Dinamisme, sementara ini Islam mengajarkan kemurnian dalam berbagai segi termasuk dalam manifestasi ajaran-ajaran Islam, karena Islam mempunyai komitmen " Jika sesuatu yang halal digabung dengan yang haram maka akan dimenangkan yang haram". (JR)
* Tingkepan adalah ritual tujuh bulanan bagi anak pertama
  Ditulis surat Yusuf, dengan harapan anak yang dilahirkan seganteng nabi Yusuf
2 Sebagi ganti dari gayung
3 Agar saudar-saudara bayi yang dikandung mendapat kebahagiaan
4 Agar si hamil dan bayi mendapat keselamatan
5 Agar bayi yang lahir setampan nabi Yusuf
6 Agar bayi yang dilahirkan memiliki kesucian seperti yang dimiliki Siti Maryam.
7 Untuk membetulkan posisi bayi yang ada di dalam kandungan
8 Ditafsirkan sama dengan membuang penyakit
9 Sambil mengucapkan "yak tang kompoi 3X lake', bini' padheh beih mander eparengenah selamet.
10 Agar bayi yang akan dilahirkan tidak bisu
11 dengan harapan nantinya proses lahirnya si bayi itu mudah dan lancar seperti mudah dan lancarnya telur yang jatuh dan juga seperti mudahnya hancurnya telur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar