Kamis, 22 September 2011

FAFIRI - PERMAINAN TRADISIONAL NIAS, INDONESIA

 
Lempengan yang terbuat dari bambu itu terbang berputar layaknya baling-baling helikopter, kemudian jatuh di halaman rumah raja (omo sebua), hanya beberapa meter dari lokasi tempat lompat batu (hombo batu) di Desa Bawömataluo, Fanayama, Nias Selatan.
Itulah salah satu pemandangan mengesankan dari menonton fafiri, salah satu dari sekian banyak permainan tradisional yang ditampilkan pada Pagelaran Atraksi Budaya dan Pameran Promosi Hasil Kerajinan Bawömataluo 2011, di desa yang terkenal dengan rumah-rumah adat dan peninggalan budaya megalitik itu, Sabtu, 14 Mei 2011.
Siang itu, empat laki-laki bersiap-siap di halaman omo sebua di desa yang memiliki 264 rumah adat yang masih terpelihara dengan baik itu. Mereka membawa alat sejenis pentungan yang dibuat dari pelepah pohon sagu (hakhi zaku) penduduk setempat menamakannya bago dan lempengan bambu berukuran 10-15 sentimeter yang disebut  firi.
Permainan sejenis juga terdapat di Nias bagian utara. Hanya saja namanya bukan fafiri tetapi fakasi lele. Cara permainannya sama, demikian  juga alat yang digunakan. Sayangnya, permainan ini sudah terlupakan. Menurut informasi, fakasi lele sudah tidak dimainkan lagi sekitar 20 tahun terakhir.
Menonton para pemain fafiri melakukan pemanasan saja sudah memberi kesan kagum atas permainan ini. Pengunjung bisa menyaksikan para pemain melakukan pemanasan. Dua alat penting siap di tangan para pemain. Tangan kirinya memegang firi, tangan kanannya memegang bago. Sesaat kemudian, para pemain melakukan ancang-ancang dan mempersiapkan dirinya melakukan pemukulan.
Seorang pemain tampak bersiap-siap memukul. Tangan kirinya menggoyang-goyang firi dan matanya awas. Sesaat kemudian bago pun diayunkan dan mengenai firi, “Puk”, firi sudah dipukul.  Diiringi sorak penonton yang kegirangan, firi terbang bergerak lurus ke depan beberapa detik di udara hingga mencapai jarak beberapa meter dan jatuh di ruang kosong di antara penonton.
 
Indah sekali! Anda serasa menyaksikan permainan bumerang di negeri kangoroo, Australia. Firi berputar layaknya baling-baling helikopter. “Pemukul yang baik bisa memukul firi sampai sejauh dua belas rumah,” ujar Ariston Manaö, Kepala Desa Bawömataluo.
Padahal, di balik menyaksikan pemandangan indah itu, menurut Ariston, penonton yang bersorak kegirangan itu tidak menyadari sebenarnya ada risko bahaya. Firi bisa mengenai diri mereka, seandainya pemain melakukan pemukulan dan salah sasaran. Untungnya, hari itu tidak ada yang korban. Firi jatuh di tempat yang kosong.  “Permainan ini berbahaya.  Kalau salah sasaran bisa mengenai penonton,” ujar Ariston Manaö, Kepala Desa Bawömataluo
Di Nias bagian utara, bekas pemain fakasi lele bernama Elizaro Mendröfa, warga Desa Boyo, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, mengalami cacat mata sebelah kirinya akibat firi atau fakasi lele mengenai matanya saat bermain.
Lalu, apa manfaat permainan ini?
Menurut Ariston Manaö, permainan ini dimaksudkan untuk mendidik kedisiplinan dan keseimbangan. Tidak saja bagi pemain, tetapi juga bagi penonton.
Itulah sebabnya, sebelum pertandingan dimulai, panitia terdengar beberapa kali mengingatkan agar penonton benar-benar memperhatikan saat firi dipukul agar bisa mengelak seandainya firi salah sasaran.
Pemain dan penonton dituntut kewaspadaan dan disiplin. Seorang warga,  Takdir Haria (45), menuturkan, seorang pemain harus menguasai betul teknik permainan fafiri agar tidak membahayakan dirinya dan juga penonton. Pemukul firi harus memahami betul cara memukulnya. Misalnya, dia harus mampu memukul persis sepertiga bagian firi di sebelah kanannya. ”Kalau pemukulannya sempurna, firi akan terlempar dan berputar-putar,” ujar Takdir.
Tahapan permainan fafiri sebelum dinyatakan sebagai pemenang, menurut Takdir, harus melalui tahapan-tahapan yang cukup panjang. Mulai dari undian menentukan pemukul pertama dengan suit (adu jari, kelingking, ibu jari, dan telunjuk) dalam bahasa di sana disebut fasi. Yang menang akan berhak menjadi regu pertama memukul firi.
 
Tahapan berikutnya adalah memukul. Para pemain memukul firi dan harus mengenai firi lawan yang terpasang. Selain itu, “Ada pemukulan melalui selangkangan, melewati bahu, dan terakhir memukul dengan mata ditutup,” ujar warga Bawömataluo yang di masa kecilnya adalah pemain fafiri.
Sayangnya, pada fafiri Sabtu, 14 Mei 2011 lalu, tampaknya sudah mengalami modifikasi dan penyederhanaan sehingga penonton tidak bisa menyaksikan tahapan-tahapan itu dengan sempurna. “Permainan hari ini tidak memainkan semua tahapan itu,” ujar Takdir Haria.
Permaian fafiri hari itu dilakonkan empat pemuda Desa Bawömataluo. Setiap grup terdiri dari dua orang, Grup A dan Grup B. Setelah diundi melalui fasi, Grup A tampil sebagai pemukul firi pertama. Sementara Grup B bertugas memasang bago dan firi, sebagai sesasaran pemukulan. Tak terlihat pemukulan yang sampai sejauh dua belas rumah. Hanya beberapa meter dari pemukul.
Setelah sasaran terpasang, Grup A memukul firi ke arah sasaran. Pemukul firi pertama tidak berhasil mengenai sasaran. Penonton bersora, ”Huuuuuuu….”. Lantas dilanjutkan pemain yang satu lagi. Pada pukulan kedua ini pun, pemain tidak berhasil mengenai sasaran.  Dan,  “Huuuuuuu….,” terdengar ocehan penonton yang jumlahnya ratusan.
Posisi berubah. Kini giliran Grup B yang berhak memukul firi. Pemukul pertama Grup B berhasil mengenai sasaran, menjatuhkan firi yang dipasang Grup A. Permainan dimenangi oleh Grup B dan tampil sebagai juara.
Meskipun penampilan fafiri dalam Bawömataluo 2011 tidak sempurna, penonton merasa puas. Mereka bersorak, berjingkrak-jingkrak. Tidak begitu peduli apakah permainan itu sempurna atau tidak. “Luar biasa,” kata seorang pengunjung yang datang dari Medan.
Hingga sekarang ini, penduduk desa ini masih memainkan fafiri di sore hari untuk mengisi waktu lowong. Desa berpenduduk 6.000 jiwa itu merupakan areal seluas 5 hektar dan memiliki empat lorong yang lebar dan memberi ruang bagi penduduk memainkan permainan ini. Menurut Takdir, di masa lalu lorong-lorong itulah tempat satu-satunya bagi mereka bermain fafiri.
Desa yang terletak 250 meter di atas permukaan laut ini memiliki empat lorong utama, yakni lorong raya (gerbang timur), lorong halamba’a (gerbang selatan), lorong lou (gerbang barat), dan lorong Ndrölömbagoa (gerbang Utara). “Lorong inilah tempat kami bermain fafiri di masa kecil,” ujar Takdir.
Semoga permainan tradisional  fafiri terus terpelihara sebagai sebuah kekayaan budaya daerah dan menjadi salah satu tontonan yang menarik bagi pengunjung desa yang dulu banyak dikunjungi wisatawan asing yang turun dari kapal-kapal pesiar yang berlabuh di Telukdalam itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar