Minggu, 18 September 2011

TINJU TRADISIONAL ADAT SAGI - NGADA, NUSA TENGGARA TIMUT INDONESIA

  1. TINJU ADAT (SAGI)
Sagi merupakan salah satu bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat dalam kampung atas hasil panen yang diejawantahkan dalam bentuk ritual tinju tradisional (adat) di wilayah Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Propinsi NTT. Peserta tinju adat (sagi) ini biasanya terdiri dari dua kubu yang berlawanan. Petinju dari kedua kubu tersebut biasanya para pemuda yang dipilih secara acak dari kerumunan penonton yang menyaksikan pagelaran tinju adat tersebut. Para petinju dipilih oleh Mosa (panitia) acara. Peralatan tinju yang dipakai masih sangat tradisional, yaitu berupa tanduk kerbau yang dilapisi dengan ijuk (tai kolo atau Woe). Sedangkan pakaian yang digunakan berupa Lesu (ikat kepala), selendang (untuk penutup dada), dan Ragi (kain tenun penutup tubuh bagian bawah). Penentuan kegiatan Sagi pada malam Dero biasanya mengikuti siklus peredaran bulan.

2.  TAHAP RITUAL

Secara garis besar, Sagi memiliki dua tahapan yang bisa disaksikan oleh orang luar kampung, yaitu:
  • KOBE DERO, yaitu tahapan  sebelum tinju adat (sagi) dimulai yang diawali dengan ritual terhadap peralatan tinju yang akan digunakan. Acara ini dihadiri oleh mosalaki (sesepuh adat) yang berwenang menyelenggarakan acara . Acara kemudian dilanjutkan dengan tarian dan nyanyian sambil mengitari api unggun. Biasanya tarian ini diadakan ditengah kampung. Kegiatan menari sambil menyanyi ini dilakukan hingga menjelang matahari terbit.
  • SAGI, yaitu tahapan inti dan puncak dari semua ritual ucapan syukur. Sagi ini digelar di tengah perkampungan. Tinju adat ini dilakukan sampai puluhan partai. Tiap partai terdiri dari beberapa ronde tergantung dari kesanggupan kedua petinju dari kubu yang berlawanan di tiap partainya. Selesai bertinju, kedua petinju akan saling bersalaman dan berpelukan sebagai tanda kekeluargaan dan berarti duel selesai di arena. Namun jika keduanya tidak mau bersalaman, maka duel akan dilanjutkan di arena Sagi kampung berikutnya. Acara tinju tradisional ini akan berlangsung sampai matahari terbenam. 
    3. PENUTUP
    Tinju Adat (Sagi) merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang masih melekat pada tata kehidupan masyarakat Ngada umumnya dan Soa Khususnya. Acara Sagi ini bisanya digelar pada bulan Mei sampai dengan bulan Juli.

    1 komentar:

    1. makasih abang infonya........... ijin upload ya..........

      BalasHapus