Rabu, 23 November 2011

RUMAH PERISTIWA RENGASDENGKLOK - KARAWANG, JAWA BARAT INDONESIA


Rengasdengklok telah ditakdirkan tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Semua orang Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan dasar hafal di luar kepala bahwa Rengasdengklok menyimpan satu keping sejarah yang, meski singkat, tapi dianggap penting. Bung Karno dan Bung Hatta diculik sejumlah pemuda, di antaranya adalah Soekarni, Wikana, dan Chairul Saleh, ke tempat itu pada dini hari 16 Agustus 1945, sekitar pukul 04.00. Kita semua paham saat itu ada ketegangan tertentu antara Soekarno dan Mohammad Hatta dengan para pemuda yang tak sabar memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Kita semua tahu bahwa para pemuda menginginkan kemerdekaan yang lebih cepat, dan tanpa melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dianggap sebagai lembaga buatan Jepang. Kita semua punya informasi tentang semua itu.

Pada 16 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta diculik sejumlah pemuda ke Rengasdengklok. Tujuan pertama mereka adalah markas PETA yang ada di kecamatan itu. Bung Karno dan rombongan tiba di daerah itu setelah menyeberangi Sungai Citarum menggunakan perahu. Begitu sampai, para pemuda lalu membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke markas PETA dan meminta diadakan pembicaraan di sana. Tapi Bung Karno menolak, karena markas PETA itu mudah diintip oleh mata-mata Jepang. Saat itulah Soekarno melihat rumah Kie Siong di wilayah itu dan memutuskan agar pembicaraan digelar di rumah tersebut. Setelah keputusan diambil, sejumlah prajurit PETA mendatang rumah Kie Siong, mengatakan ada tamu penting, tapi sekaligus meminta Kie Siong mengungsi sementara bersama keluarganya. Tak tahu-menahu atas hiruk-pikuk itu, Kie Siong menurut. Dia sama sekali tak mengenal Soekarno dan Hatta saat itu. Disuruh keluar dari rumahnya sendiri oleh para prajurit PETA, Kie Siong akhirnya mengungsi ke rumah anaknya tak jauh dari situ. Baru beberapa hari sesudah itu, Kie Siong tahu apa yang sesungguhnya terjadi dan siapa para tamu misterius di rumahnya.


Kie Siong adalah seorang keturunan Tionghoa yang berprofesi sebagai petani, peternak babi dan ayam, serta tukang eretan perahu di Sungai Citarum. Pada masa perjuangan kemerdekaan, dia bisa dikatakan cukup kaya untuk ukuran zaman itu. Dia punya sejumlah sawah dan sebuah rumah yang besar di pinggir Sungai Citarum.Rumah yang bersejarah ini terletak di RT 1 RW 9 Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan RengasdengklokTidak semua benda di rumah itu masih asli. Sebagian besar barang di kamar yang dulu ditempati Soekarno, seperti ranjang, meja, dan kursi, sudah dipindahkan ke Museum Sri Baduga di Bandung. Sementara itu, perabotan di kamar Bung Hatta masih utuh. Kita juga bisa menemukan meja, cermin, dan bale-bale yang sama dengan saat peristiwa Rengasdengklok.


Hingga sekarang keturunan Kie Siong  masih menjaga rumah bersejarah  dengan cukup telaten dan masih mau melayani para pengunjung yang datang. Semangat berkorban mereka mungkin mirip kesediaan Kie Siong merelakan rumahnya dipinjam para pejuang kemerdekaan Indonesia dan keikhlasannya menerima ayam-ayamnya disembelih tanpa izin untuk makan Soekarno dan rombongannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar