Jumat, 11 November 2011

SILAT HARIMAU - ALIRAN SILAT DARI SUMATERA BARAT - INDONESIA ( KEINDAHAN YANG MEMATIKAN )


Siilek (Silat dalam bahasa minang) Harimau salah satu aliran silat yang berasal dari Sumatera Barat. Kuncian dan tangkapan memang menjadi ciri khas Silat Harimau. Melumpuhkan lawan lebih kerap dilakukan dengan menangkap serta mengunci tangan, kaki, atau leher lawan. Umumnya, kuncian dilakukan sambil membawa lawan ke tanah. Kuncian itu akan sangat menyakitkan terhadap lawan yang rebah dan membuatnya tidak berkutik. Bila aliran silat lain bertarung dengan berdiri, Silat Harimau juga memiliki aplikasi teknik bertarung di bawah, seperti harimau yang bergumul dengan lawannya di tanah.

Manakala bertarung berdiri, Silat Harimau memiliki teknik akrobatik dan beragam, termasuk menyerang dengan lutut sambil menaiki tubuh musuh, serta teknik-teknik lainnya yang justru kerap diaplikasikan dalam teknik beladiri asing. Tak mengherankan jika aplikasi jurus-jurus Silat Harimau tak hanya efektif dan mematikan, tapi juga indah dan enak dilihat.
Karakter lainnya dari Silat Harimau adalah tak ada pukulan dengan tinju, tapi dengan pukulan cakar dengan telapak tangan terbuka. Cakar ini diarahkan ke muka, leher, dan kemaluan lawan. Bentuk tangan terbuka ini juga efektif untuk menangkap dan mengunci anggota tubuh lawan. “Seperti gerakan harimau yang lincah dan menarik, tapi juga menyiratkan ancaman bahaya dan kematian”.
Silat ini pun mendapatkan perhatian dan apresiasi dari masyarakat perfilman di Indonesia, dengan mengangkat silat harimau dalam sebuah film layar lebar yang berjudul "Merantau". Film ini disutradarai oleh Gareth Huw Evans dan pemain utama Iko Yuwais. Film ini juga melibatkan aktor senior yang telah malang-melintang di indutri perfilman, yaitu Chistine Hakim.

Tak hanya mengangkat nilai tradisi, film Merantau juga memiliki misi khusus untuk menyelamatkan tradisi lain yang tak kalah penting,yakni silat harimau. Silat ini merupakan satu dari sekian banyak jenis silat nusantara yang terancam punah. Bukan kebetulan, sang sutradara merupakan penggila berat pencak silat.
Dari setiap adegan, bisa begitu jelas misi yang diemban dalam film. Adegan dimulai dengan menampilkan sejumlah gerakan dari silat harimau oleh Yuda (Iko Yuwais). Lantas, alur pun mengalir pada sebuah momen, dimana Yuda telah memasuki usia dewasa dan harus menjalani ritual tradisi yang telah dipercaya sejak dahulu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar