Minggu, 25 Desember 2011

CANDI SUKUH - PIRAMIDA DI BUMI INDONESIA

Candi Sukuh dapat dikatakan sebagai satu-satunya piramida yang terdapat di Nusantara, atau setidaknya satu-satunya yang sudah berhasil ditemukan (siapa tahu ada candi dengan bentuk mirip piramida yang ditemukan lagi nantinya). Candi ini sangat menarik karena dibangun menggunakan prinsip-prinsip arsitektur yang sama dengan piramida yang terdapat di Meksiko dan Guatemala peninggalan Suku Maya dan Suku Inca. Jika candi-candi lain dibangun dengan bentuk yang menyimbolkan Gunung Meru, maka Candi Sukuh memiliki tampilan yang sangat sederhana dengan bentuk trapesium. Mungkinkah dua suku bangsa berbeda dari dua benua yang berbeda bisa membuat bangunan dengan arsitektur dan desain yang nyaris serupa? Ataukah memang ada pengaruh dari suku Maya dalam pembangunan Candi Sukuh pada masa pemerintahan Raja Brawijaya ini? Berikut sedikit ulasan dar BerbagaiHal tentang piramida di Indonesia ini.


Berbagai teori dan dugaan pun bermunculan. Salah satunya menyebutkan bahwa candi ini dibangun pada masa ketika kejayaan Hindu mulai memudar. Sebagai akibatnya, pembangunan Candi Sukuh dibuat dengan konsep kembali ke budaya Megalitikum asli Indonesia semasa pra sejarah. Teori lain menyebutkan bahwa bentuk candi ini merupakan bagian dari cerita pencarian "tirta amerta" (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, yaitu kitab pertama Mahabharata. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang puncaknya dipotong dan digunakan untuk mengaduk-aduk lautan mencari "tirta amerta" yang bisa memberikan kehidupan abadi bagi siapapun yang meminumnya.

Sebenarnya tidak terlalu mengherankan mengapa candi ini memiliki struktur yang mirip dengan piramida. Karena candi ini dibangun di lereng gunung yang cukup tinggi, sehingga dibangun berupa teras-teras yang berundak yang langsung digali di lereng gunung. Tiga teras dan ditambah dengan sebuah piramida besar yang ditopang oleh sebuah lingga bertingkat dan sebuah sistem saluran air yang unik. Candi ini dibangun secara punden berundak dan menghadap ke barat, mungkin ke arah Merapi. Padahal candi ini terletak di lereng Lawu, sehingga diduga bahwa Merapi pada saat itu lebih aktif daripada Lawu, dan candi ini barangkali dibangun untuk maksud tertentu dalam penyembahan terhadap Merapi.

Menurut sejarah, Candi Sukuh yang berada di Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar dibangun pada sekitar abad ke-15 oleh masyarakat Hindu Tantrayana. Candi ini merupakan candi termuda dalam sejarah pembangunan candi di Bumi Nusantara. Candi ini dibangun pada masa akhir menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit yang berpaham Hindu. Para pengikut setia Majapahit yang melarikan diri ke lereng Gunung Lawu lantas membangun candi ini setelah kerajaan mereka runtuh diserang Kerajaan Demak yang berpaham Islam.

Struktur Bangunan Candi

Bangunan Candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan yang mencolok bagi para pengunjung. Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang sangat megah. Pembuatan patung dan reliefnya pun sedikit lebih kasar daripada relief dan patung candi-candi pada umumnya. Batu-batuan di candi ini berwarna agak kemerahan, sebab batu-batu yang dipakai adalah jenis andesit.

Kesan kesederhanaan ini menarik perhatian arkeolog asal Belanda bernama W.F. Stutterheim pada tahun 1930. Ia mencoba menjelaskannya dengan memberikan tiga argumen. Pertama, kemungkinan pemahat Candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton. Kedua candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi. Ketiga, keadaan politik kala itu dengan menjelang keruntuhannya Majapahit, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah.

Para pengunjung yang memasuki pintu utama lalu memasuki gapura terbesar akan melihat bentuk arsitektur khas bahwa ini tidak disusun tegak lurus namun agak miring, berbentuk trapesium dengan atap di atasnya. Berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah pada umumnya, Candi Sukuh disebut telah menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya, yang menjelaskan bahwa bentuk candi harus bujur sangkar dengan pusat persis berada di tengah-tengah. Karena bagian tengah itu dipercaya sebagai tempat yang paling suci.

Teras Pertama Candi

Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada sisi gapura ini ada sebuah candrasengkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi "gapura buta abara wong" yang dalam bahasa Indonesia berarti "gapura sang raksasa memangsa manusia". Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Tahun ini dipercaya sebagai tahun dimana pembangunan teras pertama selesai. Di sisi selatan gapura juga terdapat relief raksasa yang berlari sambil menggigit ekor ular. Menurut candrasengkala berbunyi "gapura buta anahut buntut" atau "gapura sang raksasa menggigit ekor ular", yang merujuk pula tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi.

Teras Kedua Candi


Gapura pada teras kedua sudah rusak. Di kanan dan kiri gapura didapati patung penjaga pintu atau "dwarapala", namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah relief yang menggambarkan Ganesha dengan tangan memegang ekor yang candrasangkalanya dalam bahasa Jawa berbunyi "gajah wiku anahut buntut" atau "gajah pendeta menggigit ekor". Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir dua puluh tahun dengan gapura di teras pertama. Selain itu terdapat relief pada sebelah utara yang menggambarkan seorang laki-laki sedang duduk dengan kaki berselonjor. Di depannya tergolek senjata-senjata tajam seperti keris, tombak dan pisau.

Teras Ketiga Candi

Sedangkan teras ketiga merupakan teras tertinggi atau sering disebut sebagai teras paling suci. Teras ini melambangkan kehidupan manusia setelah mati, dimana jiwa dan roh manusia terangkat ke nirwana (surga). Konon, mereka yang punya beban hidup berat akan terlepas jika melakukan permohonan di puncak teras ketiga ini. Selain itu, segala permohonan yang diminta dengan niat tulus dan hati bersih juga akan terkabul. Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit dan terdapat arca lingga yoni di lantainya.


Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.

Jika dinalar menggunakan logika, boleh jadi kearifan lokal ini ada benarnya. Karena seorang perempuan yang sudah tidak suci lagi, manakala diminta melakukan ritual ini tentu ada rasa kegelisahan dan ketakutan tersendiri yang menyebabkan kai kemben yang dikenakannya melorot. Sebaliknya, perempuan yang masih perawan akan melangkahi relief itu dengan tenang dan yakin dengan tidak ada keraguan sedikit pun.

Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesaji. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang. Kemudian pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian relief-relief yang merupakan mitologi utama Candi Sukuh dan telah diidentifikasi sebagai relief cerita Kidung Sudamala.

Sudamala adalah salah satu dari lima ksatria Pandawa (Pandawa Lima) atau yang lebih dikenal dengan Sadewa. Sudamala maknanya ialah yang telah berhasil "mengruwat" atau yang telah berhasil membebaskan kutukan. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil "mengruwat" Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru akibat perselingkuhannya. Sadewa berhasil "mengruwat" Bethari Durga yang semula raksasa betina bernama Durga atau Sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya aslinya sebagai seorang bidadari di kayangan dengan nama Bethari Uma. Urutan reliefnya adalah sebagai berikut.

Relief pertama


Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok dan diikuti oleh seorang punakawan atau pengiring. Berhadapan dengan Sadewa terlihatlah Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan.

Relief kedua


Pada relief kedua ini dipahat gambar Dewi Durga yang telah berubah menjadi seorang raksasi (raksasa wanita) yang berwajah mengerikan. Dua orang raksasa mengerikan, Kalantaka dan KalaƱjaya menyertai Batari Durga yang sedang murka dan mengancam akan membunuh Sadewa. Kalantaka dan Kalanjaya adalah jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai raksasa berwajah buruk. Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Durga. Di belakangnya terlihat antara lain ada Semar. Terlihat wujud hantu yang melayang-layang dan di atas pohon sebelah kanan ada dua ekor burung hantu. Lukisan mengerikan ini kelihatannya ini merupakan lukisan di hutan Setra Gandamayu (Gandamayit) tempat pembuangan para dewa yang diusir dari surga karena pelanggaran.

Relief ketiga


Pada bagian ini digambarkan bagaimana Sadewa bersama punakawannya, Semar berhadapan dengan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas. Sadewa akan menyembuhkannya dari kebutaannya.

Relief keempat


Adegan di sebuah taman indah di mana sang Sadewa sedang bercengkerama dengan Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa serta seorang punakawan di pertapaan Prangalas. Tambrapetra berterima kasih dan memberikan putrinya kepada Sadewa untuk dinikahinya.

Relief kelima


Lukisan ini merupakan adegan adu kekuatan antara Bima dan kedua raksasa Kalantaka dan Kalanjaya. Bima dengan kekuatannya yang luar biasa sedang mengangkat kedua raksasa tersebut untuk dibunuh dengan kuku pancanakanya.



Lalu pada bagian kanan terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Yakni cerita tentang Garuda yang mempunyai ibu bernama Winata yang menjadi budak salah seorang madunya bernama Dewi Kadru. Dewi Winata menjadi budak Kadru karena kalah bertaruh tentang warna ekor kuda Uchaiswara. Dewi Kadru menang dalam bertaruh dengan curang sebab dia menyuruh anak-anaknya yang berwujud ular naga menyemburkan bisa-bisanya (racun) di ekor kuda Uchaiswara sehingga warna ekor kuda tersebut berubah menjadi hitam. Dewi Winata dapat diruwat oleh sang Garuda dengan cara memohon "tirta amerta" (air kehidupan) kepada para dewa.


Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti. Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian amerta tersebut di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan dunia bawah yakni dasar gunung Mahameru, juga berkaitan dengan kisah suci agama Hindhu yakni "samudra samtana" yaitu ketika dewa Wisnu menjelma sebagai kura-kura raksasa untuk membantu para dewa-dewa lain mencari air kehidupan. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian.


Lalu ada pula relief tapal kuda dengan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kira dan kanan yang berhadapan satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa relief ini melambangkan rahim seorang wanita dan sosok sebelah kiri melambangkan kejahatan dan sosok sebelah kanan melambangkan kebajikan. Namun hal ini belum begitu jelas. Kemudian ada sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi pewara. Di bagian tengahnya, bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala. Patung ini oleh beberapa kalangan masih dikeramatkan sebab seringkali diberi sesajian.


Dengan bukti-bukti relief cerita Sudamala, Garudeya serta prasasti-prasasti, maka dapat dipastikan Candi Sukuh pada zamannya adalah tempat suci untuk melangsungkan upacara-upacara besar (ritus) ruwatan. Sedangkan ditilik dari bentuk candi yang mirip dengan "punden berundak", candi ini ditujukan sebagai tempat pemujaan roh-roh leluhur mirip dengan fungsi piramida Suku Maya dan Suku Inca. Tradisi "ruwatan" juga masih dipelihara dengan baik oleh masyarakat penganut Hindu yang berdiam di sekitar kawasan Piramida Indonesia ini sampai sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar