Sabtu, 10 Desember 2011

TUMBILOTOHE - TRADISI MASYARAKAT GORONTALO INDONESIA


Tumbilotohe, merupakan tradisi masyarakat daerah Gorontalo pada 3 malam terakhir bulan Ramadhan. Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun sejak abad XV Tumbilotohe sesuai dengan namanya “tumbilo(=pasang)” dan “tohe(=lampu)”, yaitu acara menyalakan lampu. Lampu yg digunakan sekarang adalah lampu minyak (minyak tanah) yg umumnya terbuat dari botol atau kaleng bekas yg bagian tutupnya dipasangi sumbu. Sumbu yg dipakai adalah sumbu kompor (kompor minyak) plus untuk lebih semaraknya sebagian berinovasi dengan menambahkan aneka lampu listrik.
Konon zaman dulu menggunakan damar, trus ganti jadi minyak kelapa, sekarang minyak tanah(menurut sejarah daerah).Lampu2 ini di pasang berjejer di depan rumah, di pagar, maupun di pinggir jalan mirip jemuran. Uniknya kalau ada sponsor-nya jangankan halaman rumah, sawah dan sungai pun dipasangi lampu. Anda bisa bayangkan kalau sawah satu hektar dipasangi lampu tiap 1 meter berarti ada 100 ribu lampu jadi biasnya bisa 200 ribu cahaya lampu (sebab sawah yang dipasangi yang ada airnya). Tradisi ini juga dimeriahkan dengan festival meriam bambu.


Ada beragam versi mengenai latar belakang tradisi ini. Ada yg bilang menyambut malam lailatul qadar supaya orang tidak tidur, tapi beribadah di sepanjang malamnya. Sejarah juga menyatakan sebagai penerang jalanan menuju mesjid pada masa lampau. Namun apapun latar belakangnya ini adalah budaya masyarakat muslim Gorontalo di penghujung Ramadhan.Malam tumbilotohe adalah malam festival paling ramai di Gorontalo. Apalagi jika dilombakan antar kampung atau kecamatan, wah makin ramai tuh. Jika saja anda menuju Gorontalo dengan penerbangan malam (biasanya kalau penerbangannya delay) disaat perayaan malam pasang lampu ini digelar, maka anda akan disuguhi pemandangan Provinsi ini terang bercahaya dari udara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar