Minggu, 25 Desember 2011

WISMA MENUMBING - BANGKA, INDONESIA

Wisma Menumbing merupakan sebuah bangunan bersejarah saksi bisu perjuangan tokoh-tokoh proklamator Republik Indonesia puluhan tahun silam. Bangunan ini merupakan salah satu rumah pengasingan yang dibangun oleh Belanda untuk membatasi ruang gerak para tokoh kemerdekaan pada saat itu. Tidak ada data pasti kapan wisma/pesanggrahan Menumbing ini dibangun. Yang jelas bangunan ini dibangun oleh para pekerja rodi (pekerja paksa) pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1927, sementara dari sumber lain menyebutkan komplek ini dibangun pada tahun 1890 dan sumber lainnya menyebut pada tahun 1932. Bangunan bersejarah ini berada di puncak Gunung Menumbing dan bangunannya berdiri di atas ketinggian 450 meter dari permukaan laut dan langsung menghadap selat Bangka. Bangunan ini merupakan aset sejarah yang harus terus dilestarikan, karena menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno dan para tokoh republik pada masa pemerintahan kolonial Belanda di tahun 1949.




Di atas lahan seluas dua hektar, bangunan ini berdiri tegak diketinggian 445 meter dari permukaan laut. Terdiri dari tiga bangunan, yakni bangunan utama yang terdiri 6 kamar dan dua paviliun terdiri 6 kamar dan 7 kamar. Disini lah tercetus ide oleh para tokoh pendiri republik ini untuk melakukan perundingan dengan belanda. Berdasarkan informasi tertulis dan terpajang di ruang 102 Wisma Menumbing, Soekarno dan sejumlah tokoh nasional lainnya dibawa ke tempat ini dibagi menjadi tiga kelompok atau rombongan. Rombongan pertama, Mohammad Hatta, Mr A.G. Pringgodigdo, Mr. Assaat dan Komodor Udara S Suryadarma yang diasingkan 22 Desember 1948 dari Yogyakarta. Kemudian rombongan kedua, Mr. Moh Roem dan Mr. Ali Sastroamidjojo yang diasingkan dari Yogyakarta ke Manumbing pada 31 Desember 1948. Dan rombongan ketiga, Bung karno dan Agus Salim juga diasingkan ke Bangka pada 6 Februari 1949 dari tempat pengasingannya semula di Kota Prapat, Sumatera Utara.




Untuk masuk ke dalam bangunan anda dipungut biaya sebesar Rp.2.500/orang. Di dalam bangunan tua tersebut pengunjung bisa melihat mobil VW (Volks Wagon)tua yang dikendarai Soekarno untuk berkeliling Mentok yang hanya tinggal body (kerangka) saja sedangkan mesinnya udah hilang. Selain itu juga terdapat tempat tidur sebanyak 2 buah yang didalamnya dilengkapi kamar mandi,2 buah kursi santai, 1 buah lemari pakaian dan sebagainya. Di luar kamar terdapat ruangan tempat Bung Karno menulis dan membaca.




Untuk menuju lokasi ini anda harus melapor lebih dulu di Pos 1 (Pintu Masuk) apalagi jika anda membawa mobil. Hal ini dikarenakan jalan yang sempit karena hanya bisa dilewati oleh satu kendaraan saja. Dengan mengendarai mobil atau sepeda motor maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi pengasingan Ir.H Soekarno sekitar 15 menit. Namun jika anda menempuh perjalanan dengan berjalan kaki,  maka dibutuhkan waktu perjalanan sekitar 1 jam lebih berarti waktu perjalanan pulang pergi memakan waktu sekitar 2 jam lebih. Bukan waktu yang singkat. Saya menyarankan lebih baik anda naik kendaraan untuk menuju puncak kecuali jika anda ingin benar-benar merasakan sejuknya hawa pengunungan.




Sang Presiden sendiri tidak lama berada di Bukit Menumbing karena kondisi tubuhnya yang tak tahan cuaca dingin pegunungan. Atas permintaannya, Bung Karno ditempatkan di tengah kota Mentok pada sebuah bangunan yang saat ini bernama Pesanggrahan Ranggam atau Wisma Ranggam. Bung Karno hanya menginap di Pesanggrahan Ranggam, namun kesehariannya boleh jadi lebih banyak di Wisma Menumbing. Sebelum kedatangan Bung Karno ke Wisma Menumbing terlebih dahulu di huni oleh tokoh lain, sebut saja Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sekretaris Negara Pringgodigdo, Menteri Luar Negeri Agus Salim, Menteri Pengajaran Ali Sastroamidjojo, Ketua Badan KNIP Mr Assaat,Wakil Perdana Menteri Mr Moh Roem dan Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara S Suryadarma. Bung Karno sendiri dibawa ke Bangka menggunakan pesawat pembom jenis B-25 memindahkan bung karno dari Sumatra Utara ke Bangka. Tak ada yang tahu persis seperti apa suasana para tokoh saat berkumpul di Menumbing. Hanya saja pilihan untuk menempuh konfrontasi dan perundingan dengan Belanda lahir di Menumbing.

Menjaga ruh sejarah itu memang penting, sebab di kawasan ini Bung Hatta membuat puisi akan arti penting Pulau Bangka bagi kemerdekaan Indonesia. Simak saja puisinya yang pernah terpahat pada lempeng besi yang sekarang ini tak tahu lagi ke mana rimbanya.

Di bawah sinar gemerlap terang cuaca
Kenang-kenang membawa kemenangan
Bangka, Djokjakarta, Djakarta
Hidup Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika.



Hatta menuliskan kenangan tentang Menumbing sebagai bagian dari rasa terima kasihnya kepada masyarakat Bangka yang tak henti-hentinya menunjukkan dukungan kepada para pemimpin bangsa selama dalam pengasingan. Sayang rasa terima kasih itu terbuang sia-sia dengan tak terawatnya aset sejarah Wisma Menumbing oleh pemerintah setempat.


Tapi nilai sejarah Wisma Menumbing yang seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah yang berkuasa saat ini malah tak lagi menjadi kebanggaan, Wisma Menumbing pernah di sewakan tahun 1996. Pemerintah Kabupaten Bangka, saat itu masih tergabung dengan Provinsi Sumatera Selatan, menyewakan bangunan bersejarah tersebut kepada PT Carmeta selama 15 tahun untuk dikelola sebagai hotel dan restoran. Wisma Menumbing pun berubah nama menjadi Hotel Jati Menumbing. Entah apa alasan Pemkab Bangka waktu itu, mengizinkan Wisma Menumbing tersebut disewakan. Sayang sekali aset sejarah itu pun dibangun menara sarana telekomunikasi dan stasiun pemancar siaran televisi. Secara tak sadar keberadaan menara itu jelas merusak lanskap keseluruhan situs bersejarah tersebut.
Namun aset sejarah ini jauh lebih berharga. Disinilah puluhan tahun silam para tokoh penjuang kemerdekaan RI itu selama kurang lebih sembilan bulan menghabisi waktunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar