Kata “Jipeng” merupakan akronim dari kata “Tanji” dan kata “Topeng”.Dengan kata lain, Jipeng adalah Topeng dengan iringan orkes Tanjidor.Dengan demikian tata cara pergelarannya pun tidak banyak berbeda dengan tata cara pagelaran Topeng. Seni Jipeng merupakan salah satu kesenian teater yang dimainkan oleh masyarakat Betawi tempo dulu. Dalam pertunjukannya, Jipeng menampilkan permainan masik, tari-tarian dan aksi teater treatrikal atau perpaduan gerak dan teater.
Kesenian Jipeng ini, mirip dengan seni drama yang memiliki alur cerita lakon dan babak. Pada umumnya kesenian ini mengambil tema cerita tentang keagamaan atau petuah. Jipeng terbentuk dari dua perpaduan kesenian dua bangsa, yakni lenong Betawi dan Tanjidor yang merupakan kesenian asli Timur Tengah. Kesenian Jipeng sempat mengalami jaman kejayaan dan keemasan di era 70-an hingga 80-an. Kesenian tersebut tumbuh pesat di Betawi pusat, seperti daerah Tanahabang dan Kampung Arab.
Kesenian Jipeng biasa digelar saat upacara perayaan adat Betawi, seperti pernikahan penyambutan tamu atau syukuran bagi masyarakat Betawi seperti khitanan. Tak jarang pula kesenian Jipeng ini dulunya ditampilkan atau dipertunjukan pada upacara ritual adat Betawi yang berkaitan dengan nilai keagamaan.Jipeng membawakan lagu-Iagu yang menurut istilah setempat disebut lagu-Iagu mars dan was (mungkin berasal dari kata Wals) seperti lagu-Iagu “Kramton, Bataliyon, Was Taktak” dan lain sebagainya, diiringi oleh orkes Tanjidor.
Untuk mengiringi tarian yang bentuknya tidak begitu berbeda dari tarian pada pertunjukan topeng kadang-kadang orkes tanjidor diganti dengan kromong tiga pencon, gendang, kecrek, kempul, suling, kempul dan gong buyung. Sering pula terjadi digunakannya orkes tanjidor sebagai pengiring tari dalam pertunjukan Jipeng.Cerita yang biasa dibawakan dalam Jipeng j uga tidak banyak berbeda dengan cerita yang biasa dibawakan oleh rombongan Topeng. Ada pula yang membawakan cerita-cerita seperti “Sultan Majapahit, “Perabu Siliwangi”, “Babat Bogor”, “Sinden Siluman”, “Rindon Jago Kerawang” dan lain-lain.
Penyebaran Jipeng terbatas di daerah pinggiran wilayah budaya Betawi, dimana terdapat orkes Tanjidor, seperti di Cilodong, Kampung Setu, Tambun, Ciseeng dan sebagainya. Kesenian Jipeng, menurut Odang Sumantri, bukanlah  kesenian asli Betawi, melainkan kesenian yang tumbuh di daerah Jawa Barat. “Kesenian ini lahir di tanah Sunda, namun pertumbuhannya banyak terdapat di kawasan pinggiran termasuk pinggiran Betawi seperti di Cileduk dan Tangerang.
Saat ini tak banyak grup kesenian Jipeng yang berada di Jakarta. Bila ada pun, dirinya memprediksi hanya kecil jumlahnya dan berada di daerah pinggiran Jakarta seperti, Cileduk dan sebagian Kebon jeruk. Itupun tak murni sebagai kesenian Jipeng, melainkan grup kesenian Lenong atau Tanjidor yang memainkan sedikit unsur Jipeng. Tak ada lagi pertunjukan teater Jipeng, kondisi inI berbanding terbalik dengan kondisi 30 tahun silam yang masih banyak menampilkan pertunjukan kesenian Jipeng. “Sekarang pertunjukan Jipeng seakan mati dan mulai bergeser ke daerah pinggiran.