Jumat, 27 Januari 2012

MITOLOGI BATAK

Dunia dalam mitologi Orang Batak terbagi menjadi Banua Ginjang (dunia atas-dewa-dewa), Banua Tonga (bumi, tempat manusia berada) dan Banua Toru (dunia bawah, tempat ruh berada). Di Banua Ginjang, ada seekor ayam yang bernama Manuk-Manuk Hulambujati yang mengerami telur sebesar periuk (perhatikan istilah manuk disini dalam Bahasa Batak, Jawa, dan Toraja). Dari telur tersebut, menetaslah tiga orang yang bernama Tuan Batara Guru, Ompu Tuan Soripada, Ompu Tuan Mangalabulan. Manuk-Manuk Hulambujati membesarkan mereka semua dan memohon kepada Debata Mulajadi Nabolon untuk memberikan pendamping hidup (wanita) kepada mereka semua. Tuan Batara Guru diberi pendamping bernama Siboru Pareme dan memiliiki keturunan : Tuan Sori Muhammad, Datu Tantan Debata Guru Mulia, dan Siboru Sorbajati dan Siboru Deak Parujar (dua orang yang disebut belakangan ini kembar). Karena tidak mau dijodohkan dengan Siraja Enda-Enda (anak dari Ompu Tuan Soripada dan Siboru Parorot) yang berwujud kadal, ia melompat ke Banua Tonga. Dalam proses “kaburnya”, Siboru Deak Parujar lebih menyukai tinggal di Banua Tonga dan tidak mau kembali ke Banua Ginjang walaupun sudah dibujuk oleh Debata Mulajadi Nabolon. Akhirnya, Debata Mulajadi Nabolon mengutus Raja Odap Odap untuk menjadi suami dari Siboru Deak Parujar. Mereka menikah dan mendapatkan dua anak kembar, Raja Ihat Manisia dan Boru Itam Manisia. Raja Ihat Manisia memiliki tiga anak : Raja Miok Miok, Patundal Na Begu, dan Aji Lapas Lapas. Raja Miok Miok memiliki anak bernama Engbanua. Engbanua ini memiliki tiga cucu, yakni : Raja Ujung, Raja Bonang Bonang, dan Raja Jau. Nah, anak dari Raja Bonang Bonang bernama Raja Tantan Debata. Anak dari Raja Tantan Debata inilah yang bernama Siraja Batak, leluhur dari masyarakat Batak dengan sistem Tarombo (penurunan marga dengan garis keturunan patrilineal). Wiiiih, panjang dan ribet yach silsilah keturunan Orang Batak dari Siboru Deak Parujar hingga Siraja Batak. Nah, sejumlah mitos yang saya temukan di belantara internet ini terkadang agak menyerempet sedikit atau benar-benar beda sama sekali. Saya menemukan satu versi mitos yang berkisah tentang Raja Jau (saudara Raja Bonang Bonang) yang menjadi leluhur Orang Nias, padahal dalam versi lainnya, leluhur Orang Nias adalah Raja Asiasi, anak dari Raja Isombaon, atau cucu dari Siraja Batak itu sendiri. Ada versi ekstrim pula menyebutkan bahwa Siboru Deak Parujar meminta burung layang-layang menenun Ulos dan dari dalamnya muncullah Siraja Batak. Disini disebutkan bahwa Siboru Deak Parujar diperistri oleh Siraja Batak! Nah loh! Padahal dalam versi lain jelas-jelas Siboru Deak Parujar adalah nenek dari nenek dari nenek dari nenek moyang Siraja Batak. Berhubung cerita di atas adalah Mitos, memang belum bisa dipastikan kebenarannya. Sama saja seperti kita mendiskusikan nenek moyang manusia adalah Adam dan Hawa, bukannya hasil evolusi dari primata. Nggak akan pernah ketemu! Menurut sejumlah penelitian antropologi, bangsa Batak berasal dari daratan Thailand. Sejarah panjang termasuk penyerangan orang Mongolia membuat mereka terdesak dan keluar dari tempat tinggalnya, berlayar ke segala arah dan membuat suku bangsa baru hasil akulturasi. Orang Batak, turun di Barus, pintu barat Sumatera. Dari Barus, mereka berpindah-pindah hingga mencapai Sianjur Mula-Mula, tempat yang diklaim sebagai asal usul Orang Batak (sayangnya, selain Batak Toba dan Batak Angkola, puak yang lain menolak konsep ini karena mereka tidak merasa konsep tersebut sesuai dengan sejarah mereka). Padahal, nenek moyang bangsa Batak yang berpindah dari Thailand itu menyebar kemana-mana, termasuk Filipina, Taiwan, Nias, dan Sumatera Selatan, termasuk salah satunya di Barus yang menjadi cikal bakal orang Batak. Artinya, orang Batak ada keterikatan hubungan dengan orang Thailand yang menetap di wilayah Indochina. apapun sejarahnya, Masyarakat Batak, terutama Batak Toba dan Batak Angkola secara khusus percaya bahwa Gunung Pusuk Buhit yang berada di wilayah Sianjur Mula-Mula adalah tanah leluhur mereka, tempat pertama kali diturunkan oleh Debata Mulajadi Nabolon. Mereka percaya, kunjungan ke tempat ini adalah perjalanan spiritual menuju lokasi leluhur mereka berada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar