Sabtu, 05 Mei 2012

GEDUNG SATE - BANDUNG, JAWA BARAT INDONESIA

Gedung Sate terletak di Jalan Diponegoro No. 22, Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Coblong. Lingkungan Gedung Sate merupakan suatu kawasan bersejarah, karena bangunan kuno dari masa Kolonial Hindia Belanda relatif banyak, seperti Museum Geologi, Museum Pos Indonesia, Gedung Dwiwarna, Rumah Tinggal  dan sebagainya. Secara Geografis Gedung Sate berada pada koordinat 107º37'07,9" BT dan 06º54'05,4" LS, dan sekitar gedung kini telah banyak berdiri bangunan perkantoran, pemukiman, dan pertokoan. Untuk mencapainya relatif mudah melalui jalan raya dengan kondisi yang baik, menggunakan kendaraan pribadi roda 4 atau 2 ataupun menaiki kendaraan umum (Bis/Angkot) yang melewati kawasan ini relatif banyak.


Gedung Sate sekarang ini dipergunakan sebagai kantor Gubernur Provinsi Jawa Barat. Untuk berkunjung ke Gedung Sate, jika datang dari arah Jakarta, ambil jalan tol Jakarta-Cikampek, lalu ambil belokan masuk ke jalan tol Cipularang, dan ambil gerbang keluar Pasteur. Setelah membayar tol, melewati lampu merah, gunakan jalan layang dan turun di ujungnya, lalu belok ke kanan di lampu merah, dan anda akan melihat Gedung Sate di sebelah kanan ujung jalan.


Pada era awal tahun 1920-an, pemerintah kolonial Belanda membuat perencanaan untuk memindahkan ibukotanya dari Batavia ke Bandung. Oleh karenanya, mereka pun membangun barak-barak militer dan bangunan untuk kantor pemerintahan. Gedung Sate adalah salah satu diantaranya, dan sedianya diperuntukkan bagi gedung pemerintahan pusat. Seperti kita ketahui, rencana ini tidak pernah terlaksana dengan meletusnya perang dunia, dan lalu tejadinya revolusi kemerdekaan Indonesia.Gedung Sate didirikan pada tahun 1920 yang merupakan hasil perencanaan dari sebuah tim yang dipimpin oleh J. Gerber, Eh. De Roo, dan G. Hendriks serta Gemeente van Bandoeng yang diketuai V.L. Slors. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Nona Johanna Catherina Coops (puteri sulung B. Coops, Walikota Bandung) dan Nona Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jendral Batavia. Langgam arsitekturnya menyerupai bangunan Italia di zaman Renaissance, yang anggun, megah dan monumental. Penataan bangunan simetris, elemen lengkungan yang berulang-ulang (repetisi) menciptakan ritme yang menyenangkan, indah dan unik. Gedung Sate memiliki areal kawasan seluas ± 27.990,859 m² dan luas gedung  ± 10.877,734 m². Gedung Sate ini berbatasan dengan utara: Jalan Diponegoro/Lapangan Gasibu, timur: Jalan Cilaki/Gedung Museum Pos Indonesia, selatan: Jalan Cimanggis, barat: Jalan Cimalaya.


Bangunan Gedung Sate dipengaruhi  ornamen Hindu dan Islam. Pada dinding fasade depan terdapat ornamen berciri tradisional, seperti bangunan candi Hindu, sedangkan ditengah-tengah bangunan induk Gedung Sate, terdapat menara dengan atap susun (tumpang) seperti Meru di Bali atau atap Pagoda. Bentuk bangunan ini menjadi unik bentuknya sebagai perpaduan gaya arsitektur timur dan barat. Gaya seni bangunan yang memadukan langgam arsitektur tradisional Indonesia dengan kemahiran teknik konstruksi barat disebut Indo-Eropeesche architectuur Stijl (gaya arsitektur Indo-Eropa). Pada puncak Gedung Sate terdapat enam tusuk sate yang menyimbulkan enam juta Gulden yang dihabiskan sebagai biaya pembangunannya.


Pada masa perang mempertahankan kemerdekaan negara RI dari Belanda (Ghurka) yang ingin kembali menjajah, gedung Sate ini oleh para pemuda dipertahankan sampai titik darah penghabisan dan pada akhirnya mereka gugur pada tanggal 3 Desember 1945 dan sebagai penghargaan atas jasa mereka dibangun sebuah monumen peringatan yang berdiri di depan Gedung Sate. Gedung Sate pada masa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda berfungsi sebagai kantor pemerintahan Hindia Belanda dan kini, dipergunakan sebagai Kantor Pusat Pemerintahan Jawa Barat. Gedung ini dapat dikatakan sebagai Landmark Kota Bandung karena mempunyai bentuk bangunan yang khas dan kehadiran penampilannya sangat kuat. Sosok bangunan Gedung Sate dengan menaranya yang beratap susun kini menjadi simbol atau ciri visual Propinsi Jawa Barat.
Gedung Sate dapat saja dijadikan sebagai objek pariwisata sejarah, karena di kawasan ini terdapat bangunan bersejarah lainnya seperti Museum Geologi dan Gedung Dwiwarna.  Selain itu dapat digunakan sebagai bahan kajian arsitektur Eropa bagi mahasiwa/pelajar. Gedung Sate apabila dijadikan objek wisata sejarah diupayakan pada hari-hari libur atau hari besar nasional agar tidak mengganggu aktifitas kantor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar