Senin, 20 Mei 2013

DAUN GATAL MANOKWARI, PAPUA INDONESIA ( TATA CARA PENGOBATAN DAN PEMELIHARAAN KESEHATAN ALA INDONESIA )



BILA ada teka – teki tentang ‘daun apa yang terkenal di tanah Papua’? Mungkin jawabannya ada lima. Kalau bukan ‘daun suanggi’, ‘daun bungkus’, ‘daun perempuan’ ‘daun isap darah mati’, maka jawabannya yang terakhir pasti ‘daun gatal’.

Daun gatal yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional dan dipasarkan di pasar tradisional Manokwari adalah daun dari tanaman perdu famili Urticaceae yang terdiri atas beberapa spesies. Meskipun demikian,  daun gatal yang umumnya dijual di pasar tradisional Kota Manokwari berasal dari spesies Laportea decumana (roxb.) chew.

“Spesies ini juga punya nama lain atau sinonim, tergantung aturan taksonomi mana yang kita ikuti, bisa juga disebut Laportea Indica,”tutur Ir. M.J. Sadsoeitoeboen, M.Si; yang kerap disapa ibu Rita, dosen taksonomi tumbuhan jurusan Biologi UNIPA.

Ia menambahkan ada spesies lain yang tengah batang daunnya berwarna putih (Dendronicde Sp) ataupun yang kecil (Laportea interupta) walau pemanfaatannya cukup berbeda. Sepengetahuannya, pemanfaatan tradisional tanaman ini tak hanya di Manokwari, tetapi juga di Jayapura dan Maluku.  Kini pemanfaatannya di Manokwari pun tak lagi milik orang asli Papua tetapi juga dimanfaatkan oleh warga non-Papua.

Tumbuhan famili  Urticaceae  umumnya memang  memiliki kandungan kimiawi seperti  monoridin, tryptophan, histidine, alkaloid, flavonoid, asam formiat dan authraguinones. Asam semut ini sendiri terkandung di dalam kelenjar ‘duri’ pada permukaan daun. Saat ‘duri’ tersebut mengenai tubuh, asam semut  dalam kelenjar itu terlepaskan dan mempengaruhi terjadinya pelebaran pori – pori tubuh. Pelebaran pori – pori ini rupanya meransang peredaran darah. Itulah sebabnya pemanfaat daun gatal umumnya merasa pegal – pegal mereka lenyap ataupun merasa lebih baik.

“Sayangnya, ekstraksi dalam bentuk salep ataupun pemakaian daun gatal dalam bentuk non-segar di masa mendatang demi alasan kepraktisanhingga kini belum ada,” lanjut Rita.

Pemanfaatan daun gatal di Manokwari rupanya tak hanya dipakai oleh masyarakat yang tinggal di kampung tetapi juga dimanfaatkan oleh kalangan akademisi UNIPA. Tengok saja cerita dari  Yafet Syufi, 39 tahun, Dekan Fakultas Sastra UNIPA yang  asli kabupaten Tambrauw ini. Ia sudah merasakan manfaat tanaman ini sejak kanak – kanak , “Su pakai sejak sekitar umur 5 tahun, tahun 1976 ka begitu. 
Waktu itu orang tua di kampung yang ajar pake.” katanya. Syufi mengakui awalnya ia sempat menangis dan kaget dengan efek pemakaian tanaman ini. Proses transfer pengetahuan dari orang tuanya pun berlangsung dengan berbagai proses yang berbeda.

Kadang sewaktu mereka berjalan di hutan dan ia dikenalkan dengan tanaman perdu ini, kadang juga sewaktu sakit dan melihat langsung pemanfaatannya. Yang pasti Syufi tak lupa menjelaskan sensasi rasa gatal saat menggosokan daun ini pada bagian tubuh yang pegal, “Nanti rasa gatal macam ingin bagaruk badan,  tapi cuma sekitar 3 – 4 menit begitu. Tra lama trus hilang, yang ada cuma bentol–bentol merah seperti terkena ulat bulu dan rasa hangat yang menjalar di bagian tubuh yang digosok” lanjutnya.

Daun gatal dipakai dengan cara menggosokan daun gatal secara langsung pada bagian tubuh yang terasa pegal dan lelah. Bahkan daun ini juga digunakan sebagai medium ‘baca’ alias ritual magis terkait kepercayaan lokal. Ia juga secara pribadi pernah menggunakannya sebagai obat sakit kepala. Saat itu beberapa kerabatnya memakaikannya daun gatal dengan cara membungkuskannya di  kening dan kepalanya. Biasanya daun akan dilepas usai sakit kepalanya terasa lebih ringan. Pak Syufi tak lupa menambahkan informasi tentang jenis daun gatal yang ia ketahui. Sepengetahuannya ada tiga jenis daun gatal berdasarkan tempat tumbuh:  dataran tinggi dan dataran rendah. Gatalnya pun lebih ‘menggigit’ dibandingkan dengan daun gatal yang tumbuh di dataran rendah.  Daun gatal yang tumbuh di dataran rendah lebih pendek dan ada yang daunnya agak kecil dan memanjang bentuk daunnya.

Hasil temuan – temuan penelitian etnobotani dalam skripsi beberapa mahasiswa UNIPA . Misalnya, Daun gatal sebagai pereda nyeri dan penghilang pegal  digunakan oleh  Suku Meyah di distrik Masni, Manokwari  (penelitian Johanis Paulus Kilmaskossu) dan suku Maybrat di distrik Mare, Sorong (penelitian Frengki Hara) yang menyebutnya ‘Afa ati’.

Bahkan pada suku Meyah, Daun gatal yang disebut ‘meciwi’ ini dapat digunakan dalam proses persalinan sebagai obat penghilang nyeri pada ibu yang akan melahirkan. Umumnya dengan menumbuk halus daun ini dan membalurkan pada beberapa bagian tubuh.  Selain itu berdasarkan penelitian Ir. M.J. Sadsoeitoeboen, M.Si, daun gatal  spesies Dendronicde Sp dimanfaatkan oleh suku Hatam di Manokwari sebagai tumbuhan untuk melatih peningkatan penciuman anjing berburu.
Biasanya, batang tengah daun gatal dipotong menjadi potongan kecil dan memasukannya ke hidung anjing yang hendak dijadikan anjing berburu, diusahakan hingga anjing tersebut bersin ataupun hidungnya berdarah. Setelah itu, anjing diciumkan dengan bau daging ataupun buruan tertentu.  Niscaya, hidung anjing berburu menjadi sangat peka dengan bau mangsa buruan.
Sebagai komoditas barang dagangan di pasar tradisional di Manokwari, harganya bervariasi antara Rp 3.000 – 5.000,-  tergantung dari pasokan daun gatal saat itu. Umumnya dijual oleh penjual asli Papua dari suku besar Arfak ataupun Maybrat. Tanaman ini biasanya didapatkan dengan dua cara; memanen langsung dari alam ataupun dari hasil budidaya.

“Beli di sana tuh segar karna langsung petik. Lain deng di pasar tuh biasanya su kena matahari jadi agak layu sedikit,” ujar Pak Syufi yang kemudian bercerita tentang beberapa pembudidaya tanaman ini di sekitar kampus UNIPA.

Prospek budidaya tanaman ini rupanya dibenarkan juga oleh Rita karena bagaimanapun saat ini pemanfaatan daun gatal masih terkait dengan kebutuhan di lapangan. Penanamannya pun tak sulit dan tak membutuhkan perawatan yang intensif. Anna Isir, 17 tahun mencerikan tanaman daun gatal yang ditanam di halaman belakang rumahnya. Bibitnya didapatkan dari kerabatnya ini tumbuh subur dengan tinggi berkisar antara 75 – 180 centi meter.

Membeli langsung di kebun, selain kualitas daun yang dapatkan lebih segar, dengan harga Rp.5.000, pembeli dapat membawa pulang sekitar 25 lembar daun gatal. Sayang, tidak setiap hari orang datang membeli. “Hanya yang tahu saja, kaka. Kalo tahu baru dong datang beli di sini,”kata Anna.
Daun gatal memang bermanfaat namun, jangan sampai salah asal pakai daun gatal. Jika salah, malah bisa demam dan merasakan gatal yang panas dan menyiksa, seperti bila tersentuh daun gatal babi atau daun gatal lainnya (semisal  Laportea Interupta).

“Kalo tong terlanjur kena gigit daun gatal babi, harus cepat ambil tanah dan gosok ke bagian tubuh yang kena daun itu. Biasanya langsung hilang. Kalo tidak, bisa berhari – hari rasa gatal skali,” cerita lelaki ini. Tanah yang diambil pun jangan terlalu kering ataupun terlalu basah. Niscaya, rasa gatal itu akan lenyap segera.
Daun gatal sebagai tanaman obat khas Papua rupanya bermanfaat bagi komunitas masyarakat suku di Manokwari maupun suku – suku lainnya. Semoga kelak tanaman ini terus dibudidayakan dan bisa menembus masuk supermarket besar dan tak hanya terhampar di atas – atas lapak tanah pasar tradisional. 

1 komentar: