Kamis, 09 April 2015

SUKU ANAK DALAM - JAMBI, INDONESIA

Di provinsi jambi terdapat sekumpulan masayarakat yang bermukim di dalam hutan,mereka biasa dikenal dengan sebutan anak rimba atau suku anak dalam (SAD). Masyarakat umum sendiri memiliki panggilan untuk suku anak dalam jambi yaitu kubu. Panggilan kubu yang di peruntukan untuk suku anak dalam jambi memiliki arti yang tidak baik atau negatif, yaitu kotor menjijikan dan bodoh. Panggilan kubutersebut pertama kali muncul di tulisan-tulisan pejabat kolonial. Sedangkan untuk sebutan Suku Anak Dalam pertama kali diciptakan oleh pemerintah Indonesia melalui departemen social.

Suku anak dalam memiliki arti sekelompok masyarakat yang bermukim di pedalaman dan terbelakang. Sedangkan Anak Rimba adalah panggilan yang terlahir dari suku anak dalam sendiri. Anak rimba memiliki arti orang yang hidup atau bermukim dan mengembangkan kebudayaan tidak terlepas dari hutan, sebagai tempat tinggal mereka. Istilah orang Rimba dipublikasikan oleh seorang peneliti Muntholib Soetomo melalui disertasinya berjudul “Orang Rimbo: Kajian Struktural Fungsional masyarakat terasing di Makekal, provinsi Jambi”.

Sejumlah ahli antropolog berpandangan bahwa Suku Anak Dalam termasuk kategori protom Melayu (Melayu Tua) dari beberapa hasil kajian yang dilakukan, menggambarkan bahwa kebudayaan Suku Anak Dalam yang ada di Provinsi Jambi memiliki kesamaan dengan suku melayu lainnya, seperti bahasa, kesenian dan nilai-nilai tradisi lainnya . Salah satu contoh adalah bentuk pelaksanaan upacara besale ( upacara pengobatan ) pada masyarakat anak dalam hampir sama dengan bentuk upacara aseik (upacara pengobatan) pada masyarakat Kerinci yang juga tergolong sebagai protom melayu.

Suku anak dalam jambi di perkirakan memiliki populasi 200.000 orang. Dikawasan hutan jambi suku anak dalam menyebar di beberapa Kabupaten, seperti di Kabupaten Batang hari, Tebo, Bungo, Sarolangun dan Merangin. Dan pada saat sekarang tak sedikit pula suku anak dalam di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pedesaan dengan pola yang mengelompok.

Suku Anak Dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya diatur dengan aturan, norma dan adat istiadat yang berlaku sesuai dengan budayanya. Dalam lingkungan kehidupannya dikenal istilah kelompok keluarga dan kekerabatan, seperti keluarga kecil dan keluarga besar. Keluarga kecil terdiri dari suami istri dan anak yang belum menikah. Keluarga besar terdiri dari beberapa keluarga kecil yang berasal dari pihak kerabat istri. Anak laki-laki yang sudah kawin harus bertempat tinggal dilingkungan kerabat istrinya. Mereka merupakan satu kesatuan sosial dan tinggal dalam satu lingkungan pekarangan. Setiap keluarga kecil tinggal dipondok masing-masing secara berdekatan, yaitu sekitar dua atau tiga pondok dalam satu kelompok.

Sedangkan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, suku anak anak dalam biasanya melakukan kegiatan berburu atau meramu, menangkap ikan, dan memanfaatkan buah-buahan yang ada di dalam hutan namun dengan perkembangan zaman dan adanya akulturasi budaya dari masyarakat luar, kini beberapa suku anak dalam telah mulai mengenal penegtahuan tentang pertanian dan perkebunan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar