Kamis, 09 April 2015

UNIKNYA PASIR PEGUNUNGAN ( PASIR TANPA PANTAI ) - WAMENA, PAPUA INDONESIA

Ada sebagian orang yang bilang surga itu adalah hamparan pantai berpasir putih dengan langit biru, sebagian lagi percaya surga itu adalah gunung hijau dengan segala kesejukannya. Bagiku, surga adalah gabungan semuanya. Perpaduan langit biru dengan hamparan pasir putih, dikelilingi oleh pegunungan, sesekali ditemani kabut yang membungkus tipis, dilingkupi lembah dengan permadani berwarna hijau terang menyejukkan mata. Benarkah tempat yang seperti itu ada di Indonesia?
Mari kita ke jantung pulau Papua jauh di timur Indonesia. Ada sebuah surga yang terletak di Desa Aikima, Lembah Baliem. Matahari bisa sangat pelit disini, sinarnya kadang direbut oleh selimut kabut. Dahulu, dipagi hari, kabut tebal selalu turun menutupi lembah. Kabut ini benar-benar tebal sehingga jarak pandang pejalan kaki pun sangat terbatas. Tak jarang pesawat yang hendak masuk ke Wamena harus kembali lagi ke Jayapura karena kesulitan untuk mendarat. Saat ini walaupun tidak lagi setebal dahulu, kabut masih setia menghiasi keindahan alam Lembah Baliem dan seolah mempertegas unsur mistis yang dimilikinya.
21Lembah Baliem terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut, dipagari pegunungan Jayawijaya. Tak terjamah pesisir pantai, jauh dari laut. Namun uniknya Bumi Cendrawasih ini mempunyai pasir putih tanpa laut. Pasir di kawasan ini adalah pasir kuarsa yang menjadi bahan dasar pembuatan gelas dan material lain yang bernilai tinggi. Tapi masyarakat Wamena enggan menjadikannya sebagai komoditas tambang. Mereka lebih memilih melestarikan kawasan ini. 
45Hapus khayalan anda tentang laut biru dengan pantai putih bersih nan indah. Pasir Putih ini bukanlah wisata pantai, melainkan daerah perbukitan batu indah yang dihiasi aliran pasir seputih salju memantulkan cahaya matahari hingga tampak bak kristal. Bukit pasir ini juga ditumbuhi pohon perdu diselimuti lumut yang konon berusia hingga ratusan tahun. Selain itu, dari atas bukit Pasir Putih kita dapat menikmati pemandangan Distrik Pikke yang dihiasi oleh padang rumput hijau dan rawa-rawa bening dengan batuan unik.
Walau pun namanya lembah, namun cuacanya bisa sangat ekstrim. Panas terik menyengat kulit di Siang Hari, dingin menusuk di malam hari, bahkan bisa mencapai 10 hingga 15 derajat Celsius. Angin akan dengan kejam menderu-deru, terkadang mendesing, terkadang melengking. Siapkan baju tebal dan hangat, jika tidak, udara disini akan membuat kulitmu kering dan pecah-pecah. Namun dengan segala kekejamannya, tempat ini tetap terasa ajaib, karena di mana lagi kita bisa menikmati pasir putih di tengah lembah raksasa, jauh di atas permukaan laut ? Hanya di Papua.
73Perjalanan ke tempat ini akan menjadi sebuah perjalanan yang tak terlupakan. Cukup mudah untuk mencapainya, lokasi ini cukup dekat dengan Kota Wamena, hanya sekitar 15 menit perjalanan. Sudah ada jalan setapak dengan kontur lanskap mendatar, lokasinya pun tak jauh dari jalan raya. Banyak pemandangan indah yang akan menyapa kita dari kiri dan kanan jalan. Rumput hijau membungkus wajah para gunung. Padang luas diselingi suara gemericik air sungai yang jernih. Membuat kita serasa diterbangkan ke sebuah negeri surga. Tak heran jika tempat ini menjadi langganan festival Lembah Baliem setiap tahunnya dengan ratusan turis asing dan domestik membanjiri.
Bagaimana pasir putih ini bisa sampai di sebuah desa di tengah-tengah Lembah Baliem, ribuan kilometer jauhnya dari pantai? Berdasarkan sains, pasir putih ini ada karena bentukan alam. Katanya, Lembah Baliem dulu adalah sebuah danau raksasa bernama Wio. Sekitar tahun 1813, terjadi gempa yang menyebabkan pergeseran dan perubahan geologi. Dari situ terbentuk pula Sungai Baliem yang meliuk di tengah lembah ini. Konon, pasir putih Desa Aikima adalah salah satu sisi danau purba tersebut.
86Pasirnya putih dan halus bak terigu. Anak-anak yang tinggal di wilayah tersebut seakan mendapat sedikit sentuhan pesisir. Bercanda riang bermain pasir walaupun tanpa air, mereka tetap menikmati sensasi bermain di tepi pantai, mengubur diri mereka di pasir ataupun berguling-guling layaknya di pantai. Satu jam, dua jam, mereka tak terlihat bosan sedikitpin. Disini waktu tak ada harganya, berlalu begitu saja bersama angin gunung. Surga memang seperti itu, bagai candu, membuat orang ketagihan, jika sudah disini, pulang akan menjadi sebuah keputusan sulit untuk diambil.

(teks: Julia Saraswati, sumber foto: google.com dan travel.detik.com)

2 komentar: